Siapa Bilang Anak Daerah Tak Bisa Melangkah Jauh? M. 'Anin Nabail 'Azhiim Raih Kesempatan Studi Doktoral di NUS
Selintas Media- Siapa
sangka, mimpi besar untuk menimba ilmu di kampus kelas dunia bisa berawal dari
sebuah kota kecil bernama Madiun. M. 'Anin Nabail 'Azhiim yang masih berusia 23
tahun membuktikan bahwa asal daerah bukan batas untuk melangkah jauh. Dengan
tekad, kerja keras, dan kecintaan pada dunia pendidikan, ia berhasil meraih
kesempatan emas melanjutkan studi doktoral (PhD) Ilmu Fisika di Department of Physics, Faculty of
Science, National University of Singapore (NUS).
Bagi Anin, pencapaian
tersebut bukan sekadar keberhasilan akademik, melainkan buah dari perjalanan
panjang yang penuh tantangan. Kini, ia bersiap menjalani babak baru sebagai
mahasiswa doktoral di salah satu universitas terbaik dunia.
Kabar bahagia itu
pertama kali datang pada Maret lalu. Saat membuka pengumuman bahwa dirinya
diterima dalam program S3 sekaligus memperoleh beasiswa, Anin mengaku momen
tersebut menjadi salah satu hari yang paling berkesan dalam hidupnya.
"Saat itu rasanya
sangat bahagia. Saya langsung menyampaikan kabar ini kepada keluarga, dan
mereka juga merasa sangat senang serta bangga," cerita Anin, Sabtu (1/8),
kemarin.
Belum selesai merasakan
kebahagiaan tersebut, Anin kembali mendapat kabar istimewa pada April. Pihak
NUS menilai dirinya layak menerima beasiswa yang lebih prestisius dengan
dukungan pendanaan yang lebih besar. Kesempatan itu tentu menjadi kebanggaan
tersendiri, sekaligus membawa tanggung jawab baru karena standar dan ekspektasi
yang diberikan juga semakin tinggi.
Setelah memastikan
langkahnya menuju Singapura, Anin mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan
keberangkatan. Ia berpamitan kepada para dosen pembimbing yang selama ini
mendukung perjalanan akademiknya, baik saat menempuh pendidikan S1 di
Universitas Indonesia (UI) maupun ketika menjalani kegiatan riset bersama Badan
Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Tidak hanya itu, ia juga menyempatkan diri
meminta doa dan restu dari guru-gurunya sejak jenjang sekolah dasar hingga
sekolah menengah.
Berbagai persiapan pun
harus dilalui, mulai dari proses administrasi kampus, pengurusan visa,
pembelian tiket pesawat, hingga mencari tempat tinggal di Singapura. Satu per
satu proses tersebut diselesaikan hingga akhirnya Anin dapat berangkat dengan lancar
dan memulai perjalanan barunya.
Di balik langkah besar
tersebut, ada keluarga yang selalu menjadi sumber kekuatan. Bagi Anin, doa dan
dukungan orang tua menjadi energi penting yang membuatnya terus bertahan
melewati berbagai proses panjang.
"Keluarga memiliki
peran yang sangat besar. Kedua orang tua saya selalu mendoakan dan memberikan
dukungan dalam setiap proses yang saya jalani," ungkapnya.
Namun, jalan menuju NUS
bukanlah perjalanan yang mudah. Sebagai salah satu universitas paling bergengsi
di dunia, NUS memiliki standar seleksi yang tinggi. Anin harus mempersiapkan
diri secara serius, mulai dari memperdalam materi penelitian, berdiskusi dengan
calon pembimbing doktoral, hingga menghadapi wawancara bersama para profesor.
Dalam proses wawancara
tersebut, Anin diuji mengenai pemahaman terhadap penelitian yang pernah ia
lakukan sebelumnya. Tidak hanya kemampuan akademik, kesiapan dalam menjelaskan
ide dan rencana penelitian juga menjadi tantangan tersendiri.
Masa setelah wawancara
menjadi salah satu fase yang paling menguji kesabaran. Selama sekitar dua
setengah bulan, Anin harus menunggu keputusan tanpa kepastian. Terlebih, ia
hanya mendaftarkan diri ke NUS sehingga hasil seleksi tersebut menjadi penentu
besar bagi langkah akademiknya ke depan.
"Jujur saat itu
saya sempat merasa cemas karena banyak memikirkan kemungkinan yang terjadi.
Tetapi pembimbing saya saat S1 terus memberikan semangat dan meyakinkan saya
agar tetap percaya dengan kemampuan diri," jelasnya.
Perjuangan tersebut
akhirnya terbayarkan ketika pengumuman penerimaan datang. Bagi Anin,
keberhasilan ini menjadi pengingat bahwa kesempatan besar dapat diraih oleh
siapa pun yang mau berusaha dan terus mengembangkan diri.
Ia pun menitipkan pesan
bagi generasi muda, khususnya masyarakat Madiun dan sekitarnya, agar tidak
merasa rendah diri hanya karena berasal dari daerah.
"Jangan minder
untuk punya cita-cita tinggi. Orang yang memiliki potensi tidak harus berasal
dari kota besar. Siapa pun bisa berkembang selama mau berusaha dan menemukan
lingkungan yang mendukung," tuturnya.
Menurut Anin,
pendidikan menjadi salah satu jalan yang mampu mengubah arah kehidupan
seseorang. Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk terus belajar dan
memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.
"Pendidikan tidak
hanya berasal dari institusi formal, tetapi juga dari berbagai pengalaman dan
pelatihan yang membuat kita terus berkembang. Jadilah pembelajar sepanjang
hayat," pungkasnya.
Perjalanan Anin dari Madiun menuju
National University of Singapore menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat
diwujudkan dari mana saja. Dengan semangat belajar dan keberanian mengambil
kesempatan, langkah kecil hari ini dapat membuka pintu menuju dunia yang lebih
luas.
(Sasmito/Selintas Media)


Join the conversation