Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Jejak Pendaki, Yazid Ditemukan Tak Bernyawa di Palung Mitis

 

Proses Pencarian di Kawasan Mongkrang- Dokumentasi HO-Relawan/Antara News Jateng

Setelah menelan waktu pencarian selama 23 hari yang penuh ketidakpastian, teka-teki hilangnya pendaki muda asal Colomadu, Yazid Ahmad Firdaus (26), akhirnya menemui titik terang yang memilukan. Pemuda yang dilaporkan hilang sejak pertengahan Januari lalu itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kawasan yang jauh dari jalur pendakian utama Bukit Mongkrang, Karanganyar.

Tragedi ini bermula pada Minggu, (18/1), lalu. Yazid bersama tiga rekannya mendaki Bukit Mongkrang dengan skema tektok atau perjalanan sehari tanpa menginap. Namun, cuaca pegunungan yang tidak menentu menjadi petaka. Saat perjalanan turun, kabut pekat dan hujan mulai menyelimuti jalur, mengaburkan jarak pandang rombongan.

Di sekitar Pos 3, Yazid dilaporkan tertinggal dari rekan-rekannya. Perpisahan yang awalnya dianggap hanya jeda jarak biasa berubah menjadi kepanikan saat Yazid tak kunjung terlihat di titik kumpul bawah hingga malam menjelang.

Upaya pencarian skala besar segera diaktifkan. Ratusan personel dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan Anak Gunung Lawu (AGL) menyisir setiap jengkal lereng Mongkrang. Selama 14 hari operasi resmi, tim harus bertarung dengan angin kencang dan medan tebing yang licin.

Meski operasi sempat dinyatakan ditutup pada akhir Januari sesuai prosedur, semangat kemanusiaan dari para relawan dan pihak keluarga tidak lantas padam. Pencarian mandiri terus dilakukan di titik-titik yang dianggap janggal dan sulit dijangkau.

Penantian panjang itu berakhir pada Selasa pagi (10/2), kemarin. Tim dari Wanadri yang tengah melakukan penyisiran mendalam menemukan jasad Yazid di area aliran sungai kawasan Bukit Mitis. Lokasi penemuan ini dikenal memiliki karakteristik medan yang sangat terjal dan berada di luar zona pendakian umum, tepatnya sekitar 1,7 kilometer dari jalur yang seharusnya.

Diduga kuat, korban kehilangan arah karena kabut pekat dan terpeleset ke dalam area jurang Tapak Nogo yang curam. Proses evakuasi berlangsung cukup dramatis dan memakan waktu berjam-jam karena posisi jenazah berada di dasar lembah yang sulit diakses.

Kejadian Yazid ini menyisakan duka mendalam sekaligus pengingat keras bagi para pecinta alam. Pihak berwenang kembali menghimbau agar pendaki selalu mengutamakan prinsip kebersamaan kelompok (group integrity) dan tidak memaksakan pergerakan saat cuaca ekstrem melanda.

 

(sas/selintasmedia)