Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Desa Batok: Surga Kakao dan Memori Agraria di Sudut Kabupaten Madiun

 

Warga Desa Batok, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun Memanen Buah Kakao atau Disebut Coklat- Dok. (Daffa/Penulis)

Selintas Media- Kabupaten Madiun tidak hanya dikenal melalui industri kereta api, kuliner pecel, atau berbagai tradisi pencak silat yang berkembang di wilayahnya. Di bagian timur kabupaten, tepatnya di Desa Batok, Kecamatan Gemarang, tersimpan potensi pertanian yang menjadi penopang kehidupan masyarakat setempat selama puluhan tahun.

Desa yang berada pada ketinggian sekitar 235 meter di atas permukaan laut ini menawarkan lanskap perbukitan, sawah terasering, serta hamparan perkebunan yang masih terjaga. Aktivitas pertanian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Madiun dalam publikasi Kecamatan Gemarang Dalam Angka 2023, Kecamatan Gemarang memiliki luas wilayah sekitar 101,97 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 34.373 jiwa. Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat, termasuk di Desa Batok yang dikenal sebagai salah satu sentra produksi kakao di Kabupaten Madiun.

Selain kakao, masyarakat juga membudidayakan cengkeh dan padi yang tumbuh cukup baik di wilayah tersebut. Kondisi geografis dan kesuburan tanah menjadikan komoditas perkebunan berkembang dari generasi ke generasi.

Kebun Buah Coklat Desa Batok- Dok. (Daffa/Penulis) 

Bagi penulis, kakao dan cengkeh bukan sekadar komoditas pertanian. Keduanya menyimpan jejak kehidupan keluarga yang tumbuh bersama tanah Desa Batok. Kakek penulis merupakan petani kakao dan cengkeh yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari hasil kebun.

Kenangan masa kecil masih melekat ketika melihat cengkeh dijemur di halaman rumah atau membantu memecah buah kakao yang baru dipanen. Dari aktivitas sederhana itu, tersimpan pelajaran mengenai kerja keras petani yang harus menghadapi cuaca, hama, serta ketidakpastian hasil panen setiap musim.

Namun, di balik potensi pertanian yang besar, petani di Desa Batok masih menghadapi persoalan yang tidak mudah. Sebagian besar hasil panen dijual dalam bentuk bahan mentah kepada tengkulak atau pengepul. Kondisi tersebut membuat petani belum memperoleh nilai tambah yang maksimal dari komoditas yang mereka hasilkan.

Panorama Kota Madiun dengan Patung Liberty- Dok. (Daffa/Penulis)

Petani umumnya belum memiliki akses yang memadai terhadap industri pengolahan maupun pasar yang lebih luas. Akibatnya, posisi tawar mereka masih relatif lemah dalam rantai distribusi hasil pertanian.

Persoalan ini bukan hanya terjadi di Desa Batok. Dalam banyak wilayah agraris di Indonesia, petani masih menjadi produsen bahan baku, sementara keuntungan yang lebih besar diperoleh pada tahap distribusi dan pengolahan.

Kondisi tersebut menjadi ironi ketika harga komoditas mengalami kenaikan. Belakangan, harga kakao di sejumlah wilayah Madiun dilaporkan meningkat hingga sekitar Rp90 ribu per kilogram. Meski demikian, belum semua petani dapat menikmati peningkatan keuntungan secara optimal karena panjangnya rantai pemasaran yang harus dilalui.

Pahlawan Sreet Center Kota Madiun- Dok. (Daffa/Penulis)

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Desa Batok tetap menyimpan harapan besar. Potensi kakao, cengkeh, dan sektor pertanian lainnya dapat menjadi modal penting bagi pengembangan ekonomi desa apabila didukung dengan akses pasar yang lebih baik, penguatan kelembagaan petani, serta pengembangan industri pengolahan di tingkat lokal.

Desa Batok bukan hanya tentang hamparan kebun dan hasil panen. Desa ini juga merekam perjalanan panjang masyarakat yang menggantungkan hidup pada tanah yang mereka kelola. Di balik setiap biji kakao dan bunga cengkeh yang dipanen, terdapat cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan agar pertanian tidak hanya mampu menghidupi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan para petaninya.

(Penulis: Daffa Faras Ardyansyah)

(Editor: Sasmito/Selintas Media)