Go International! Turis Mancanegara dibuat Kagum dengan Prosesi Pernikahan Adat Jawa di Hari Jadi ke-108 Kota Madiun
Selintas
Media – Perayaan Hari Jadi ke-108 Kota Madiun berlangsung meriah dan penuh
nuansa budaya. Pemerintah Kota Madiun menggelar Lomba Tata Rias dan Prosesi
Pernikahan Adat Jawa di Rumah Dinas Wali Kota Madiun selama dua hari, 9–10 Juni
2026.
Mengusung
tema “Madiun Mendunia” dan “108 Kota Madiun Berkilau”, acara tersebut tidak
hanya menarik perhatian masyarakat lokal, tetapi juga membuat wisatawan
mancanegara terpukau dengan kekayaan budaya Jawa yang ditampilkan secara
langsung.
Salah
satu momen yang paling mencuri perhatian adalah kehadiran turis asal Suriah
bernama Ranim yang mengaku sangat kagum saat pertama kali menyaksikan prosesi
pernikahan adat Jawa. Bahkan, ia beberapa kali menyebut pengalaman tersebut
sebagai sesuatu yang “wow” dan luar biasa.
“Ini
pertama kalinya aku menghadiri pernikahan adat Jawa. Sangat indah dan aku
sangat menikmatinya. Ini pertama kali, tapi bukan terakhir kali buatku,” ujar
Ranim usai menyaksikan prosesi budaya tersebut, Rabu (10/6), kemarin.
Menurutnya,
bagian yang paling membuat dirinya terpukau adalah detail pakaian adat
pengantin, riasan wajah khas Jawa, hingga gerakan tangan para penari
tradisional yang dinilainya sangat anggun dan artistik.
“Yang
paling aku suka adalah pakaiannya, make-up-nya, dan aku juga suka tariannya.
Sangat indah. Gerakan tangan para penarinya itu… wow,” ungkap perempuan asal
Timur Tengah tersebut.
Ranim
bahkan mengajak masyarakat internasional untuk datang langsung ke Indonesia dan
melihat sendiri kemegahan budaya Jawa yang menurutnya memiliki keunikan
tersendiri dibanding tradisi di negara lain.
“Teman-teman,
kalian harus datang dan melihat langsung pernikahan tradisional Jawa karena ini
sangat luar biasa,” katanya.
Acara
budaya tersebut juga menghadirkan delapan pasangan yang mengikuti akad nikah
massal serta sepuluh peserta kategori tunggal dalam lomba tata rias pengantin
adat Jawa.
Rangkaian
acara diawali dengan Malam Manggulan pada Selasa (9/6) malam yang menghadirkan
prosesi Midodareni, Tebusan Kembar Mayang, hingga Tedhak Ripih sebagai bagian
dari tradisi menjelang akad nikah.
Pada
hari kedua, peserta mengikuti penilaian lomba tata rias sebelum dilanjutkan
dengan akad nikah dan prosesi Temu Temanten Adat Jawa.
Ketua
Dewan Juri, Gandhi, menjelaskan bahwa seluruh peserta menggunakan model rias
Solo Putri Modifikasi agar standar penilaian tetap objektif dan adil.
“Penggunaan
model tunggal ini bertujuan menjaga standarisasi penilaian agar tim juri dapat
memberikan penilaian yang adil dan objektif,” ujarnya.
Ia
menambahkan, penilaian lomba dibagi menjadi tiga kategori utama, yakni teknik
kehalusan rias, kreativitas dalam modifikasi busana dan aksesori, serta
penampilan peserta saat berjalan dan tampil di atas panggung.
Menurut
Gandhi, penampilan pengantin juga menjadi poin penting karena peserta harus
mampu menampilkan pembawaan yang anggun layaknya pengantin adat Jawa
sesungguhnya.
Kehadiran
wisatawan mancanegara dalam acara tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal masih
memiliki daya tarik kuat di mata dunia internasional. Pemerintah Kota Madiun
pun dinilai berhasil menghadirkan perayaan budaya yang tidak hanya melestarikan
tradisi, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Jawa ke tingkat global.
(Sasmito/Selintas
Media)
Join the conversation