Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Ruwatan: Tradisi Jawa Melepas Belenggu Nasib dan Menyucikan Jiwa

 

Ruwatan yang Dilaksanakan oleh RRI Madiun- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Selintas Media- Tradisi ruwatan hingga kini masih terus lestari di tengah masyarakat Jawa sebagai salah satu bentuk ikhtiar spiritual untuk membersihkan diri dari nasib buruk. Hal tersebut kembali diwujudkan dalam Gelar Budaya RRI Madiun 2026 yang digelar pada Minggu, (28/6), kemarin melalui prosesi ruwatan yang mengangkat nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan pelestarian tradisi Jawa.

Dalam kosmologi Jawa, ritual sakral ini bukan sekadar upacara adat, melainkan penyucian jiwa dan raga agar manusia terbebas dari marabahaya serta kesialan hidup.

Secara harfiah, ruwatan bertujuan untuk menyucikan (nyuci) orang-orang yang masuk dalam kategori anak sukerto. Anak sukerto merupakan sebutan bagi orang yang lahir dengan kondisi atau weton tertentu yang menurut tradisi dianggap rentan terhadap energi negatif dan beban batin. Melalui serangkaian prosesi yang dipimpin oleh seorang dalang ruwat, rantai nasib buruk tersebut dilepaskan agar manusia bisa memulai lembaran hidup yang baru dan bersih.

Dalan Ruwat Meruwat Para Peserta Ruwatan- Dok. (Sasmito-Selintas Media)

Setiap prosesi di dalam ritual ruwatan memiliki makna filosofis yang mendalam mengenai siklus kehidupan manusia:

  • Kirab Sukerto: Prosesi mengarak para peserta sukerto dalam sebuah barisan. Tahapan ini melambangkan kepasrahan diri manusia di hadapan Sang Pencipta dan masyarakat, sekaligus simbol kesiapan batin untuk keluar dari masa lalu yang kelam menuju fase hidup baru.
  • Pager-Pager: Tahapan di mana dalang ruwatan memberikan doa pelindung atau mantra spiritual. Prosesi ini bermakna sebagai pemasangan benteng gaib agar jiwa dan raga peserta senantiasa terhindar dari marabahaya serta energi negatif di masa depan.
  • Wayangan: Pentas ini bertindak sebagai media penebusan rohani, di mana "utang" spiritual anak sukerto ditebus melalui perantara dalang guna melatih manusia mengendalikan hawa nafsu.
  • Tigas Rikmo dan Siraman: Pemotongan rambut (tigas rikmo) bermakna sebagai simbol pembuangan sial atau melarung noda masa lalu. Setelah itu, peserta menjalani prosesi memandikan diri (siraman) dengan air bunga setaman yang melambangkan penyucian lahir dan batin.
  • Murak Sesaji: Pembagian berbagai makanan dan hasil bumi sajian ritual yang telah didoakan untuk dinikmati bersama. Prosesi ini mengandung nilai sedekah, kerukunan, serta ungkapan rasa syukur atas berkah dan rezeki yang melimpah.
  • Kupat Luwar dan Penyerahan Kopohan: Pelepasan anyaman ketupat (kupat luwar) menjadi simbol utama bahwa manusia telah lepas dan bebas dari belenggu kesulitan hidup. Penyerahan kain basahan (kopohan) kepada dalang menandakan bahwa seluruh beban masa lalu resmi diserahkan untuk dibersihkan.

Prosesi Ruwatan dilakukan oleh Ki Dalang Kanda Buwono Subandi Marsudi Carito- Dok. (Sasmito/ Selintas Media)

Keabsahan makna ruwatan ini juga sangat bergantung pada ketulusan sang pemimpin ritual. Ki Dalang Kanda Buwono Subandi Marsudi Carito menegaskan bahwa esensi sejati dari meruwat adalah murni mendoakan sesama manusia, bukan sebagai ajang pembuktian kekuatan batin.

"Menurut saya, prosesi ruwatan dijalankan secara sederhana sesuai tata cara yang benar dan bukan untuk menguji atau membuktikan kekuatan batin seseorang. Yang terpenting adalah mendoakan peserta dengan tulus. Hakikat ruwatan bukan terletak pada kesaktian dalang, melainkan pada doa dan niat baik untuk membantu sesama," ujar Ki Dalang Kanda Buwono Subandi Marsudi Carito.

Prosesi Siraman- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Menurutnya, esensi dasar ruwatan harus dikembalikan pada niat awal, yaitu membantu dan mendoakan jiwa-jiwa yang sedang mencari ketenangan dengan penuh keikhlasan. Melalui pemaknaan spiritual yang praktis dan membumi ini, tradisi ruwatan tetap berdiri teguh sebagai pegangan moral masyarakat Jawa untuk melepaskan beban batin lama dan melangkah maju dengan optimisme baru.

 

(Sasmito/Selintas Media)