Arti Pohon Asam yang Banyak Ditanam Sejak Zaman Belanda, Benarkah Berkaitan dengan Hal Mistis atau Peneduh? Temukan Jawabannya
Selintas
Media- Pohon asam kerap dikaitkan dengan cerita-cerita mistis karena usianya
yang tua dan ukurannya yang besar. Namun, benarkah pohon yang banyak dijumpai
di tepi jalan peninggalan zaman kolonial Belanda itu memang ditanam untuk
tujuan tersebut?
Faktanya,
berdasarkan penjelasan pegiat sejarah dan literatur, pohon asam justru ditanam
karena memiliki fungsi yang sangat penting sebagai peneduh bagi para pengguna
jalan pada masa kolonial.
Ketua
Komunitas Sejarah Kota Madiun, Historia van Madioen, Septian dalam wawancaranya pada Jumat, (9/6), lalu mengatakan pohon
asam sengaja ditanam di sepanjang jalan utama pada era kolonial Belanda karena
memiliki batang yang kuat, berumur panjang, dan tajuk yang rindang.
Menurutnya,
pada masa itu masyarakat masih banyak bepergian dengan berjalan kaki maupun
menggunakan dokar, sehingga keberadaan pohon asam menjadi tempat berteduh saat
menempuh perjalanan jauh.
"Dulu
pohon asam banyak ditanam di pinggir jalan pada era kolonial karena pohonnya
kuat dan rindang. Waktu itu belum banyak kendaraan bermotor. Orang-orang
berjalan kaki atau naik dokar sehingga bisa berteduh di bawah pohon asam,"
ujar Septian.
Selain
menjadi peneduh, buah asam juga dimanfaatkan oleh para pelintas jalan. Ketika
melakukan perjalanan, buah tersebut dapat dikonsumsi sebagai penyegar.
Septian
menjelaskan, pohon asam juga menjadi salah satu penanda jalan-jalan lama
peninggalan masa kolonial. Di wilayah Kota maupun Kabupaten Madiun, keberadaan
pohon asam masih dapat ditemukan di sejumlah ruas jalan yang belum mengalami
penebangan.
"Kalau
di Madiun, jalan-jalan lama umumnya masih ada pohon asamnya. Biasanya jalannya
juga tidak lurus karena mengikuti pola permukiman pada masa itu," katanya.
Ia
menambahkan, pohon asam dahulu banyak ditanam di jalur-jalur utama, termasuk
ruas Anyer–Panarukan serta sejumlah jalan utama di Kota Madiun. Tujuannya agar
perjalanan masyarakat menjadi lebih nyaman karena terlindung dari terik
matahari.
Penjelasan
tersebut diperkuat dalam buku Perjalanan Panjang Tanaman Indonesia karya
Setijati D. Sastrapradja. Dalam buku itu dijelaskan bahwa pohon asam memiliki
kemampuan adaptasi yang tinggi sehingga mudah tumbuh di berbagai wilayah.
Pohon
asam tidak memerlukan kondisi tanah yang khusus. Tanaman ini mampu tumbuh di
dataran rendah hingga sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Selain itu,
pohon asam memiliki batang yang besar, kokoh, berkulit kasar, dan dapat
mencapai tinggi sekitar 25 meter.
Karakter
tersebut membuat pohon asam menjadi pilihan ideal untuk ditanam di sepanjang
jalan pada masa kolonial. Tajuknya yang lebar mampu memberikan keteduhan,
sementara daya tahannya membuat pohon ini dapat bertahan hingga puluhan bahkan
ratusan tahun.
(Sasmito/Selintas
Media)

Join the conversation