Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Menelusuri Kawasan Banjarsari, Mengungkap Jejak Perdikan yang Berpengaruh dalam Sejarah Nasional

Penelusuran di Kawasan Banjarsari dalam Rangka Peringatan 258 tahun Perdikan Pesantren Ageng Banjarsari- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Selintas Media- Jejak sejarah kawasan Banjarsari kembali ditelusuri dalam rangkaian peringatan 258 Tahun Perdikan Pesantren Ageng Banjarsari, Sabtu (18/7), kemarin. Penelusuran yang dimulai dari halaman Masjid Kiai Ageng Muhammad bin Umar Banjarsari itu mengungkap kembali peran kawasan tersebut sebagai salah satu pusat perkembangan Islam di Madiun sekaligus daerah yang memiliki keterkaitan dengan sejumlah tokoh nasional.

Selama penelusuran berlangsung, peserta mengunjungi sejumlah titik bersejarah untuk memahami perjalanan Banjarsari sebagai kawasan perdikan. Selain melihat peninggalan yang masih bertahan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai posisi Banjarsari dalam sejarah lokal yang dinilai belum banyak dikenal masyarakat.

Pegiat sejarah sekaligus ketua Historia van Madioen (HvM), Septian, menjelaskan bahwa Banjarsari selama ini masih jarang dibahas dalam kajian geografi maupun sejarah lokal. Padahal, kawasan tersebut memiliki pengaruh penting terhadap perkembangan Islam dan melahirkan sejumlah keturunan yang kemudian berkiprah di tingkat nasional.

Komplek Perumahan Ndalem  Kiai Ageng Muhammad bin Umar- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

"Banjarsari memiliki peran penting dalam sejarah bangsa. Selain berkaitan dengan perkembangan agama Islam, keturunannya juga banyak yang berpengaruh, baik di Madiun maupun di tingkat nasional," ujarnya.

Menurut Septian, sejumlah tokoh nasional yang memiliki hubungan genealogis dengan Banjarsari di antaranya keluarga Soetan Sjahrir beserta istri Poppy Syahrir, tokoh intelektual Prof. Sudjatmoko, seniman Maya Istianti, hingga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ia juga menjelaskan bahwa pembagian wilayah menjadi Banjarsari Wetan dan Banjarsari Kulon bukan menunjukkan perbedaan sejarah, melainkan perkembangan administrasi yang terjadi seiring dinamika masyarakat pada masa lalu.

Para Peserta Tengah Mempersiapkan Diri Untuk Kegiatan- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

"Perubahan itu merupakan bagian dari dinamika sejarah. Banyak wilayah perdikan mengalami perkembangan serupa karena pergantian kepemimpinan maupun pembagian kelompok masyarakat," katanya.

Menurut Septian, sejarah tidak bersifat tetap, melainkan terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Karena itu, pemahaman terhadap sejarah lokal perlu terus diperkuat agar masyarakat dapat melihat keterkaitan antara peristiwa masa lalu dengan kondisi saat ini.

Ia berharap semakin banyak masyarakat mengenal sejarah Banjarsari sehingga tumbuh kesadaran untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang masih tersisa.

"Harapan saya, sejarah semakin dikenal masyarakat sehingga muncul rasa bangga terhadap tanah kelahirannya," tuturnya.

Suasana Masjid Banjarsari- Dok. (Sasmito/ Selintas Media)

Penelusuran kawasan Banjarsari menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali sejarah lokal yang selama ini belum banyak mendapat perhatian. Melalui pengenalan terhadap situs-situs bersejarah dan berbagai informasi yang masih tersimpan di masyarakat, kawasan ini diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu bagian penting dari perjalanan sejarah Madiun.

 

(Sasmito/Selintas Media)