Mengapa Malam di Kota Madiun Terasa Lebih Dingin? Ini Penjelasan Ilmiah BMKG
Selintas
Media- Warga Kota Madiun dan sekitarnya merasakan suhu udara pada malam hingga
dini hari lebih dingin dibandingkan biasanya sejak pertengahan Juni hingga awal
Juli 2026. Fenomena yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bediding ini
merupakan siklus musiman yang lazim terjadi saat puncak musim kemarau dan bukan
disebabkan oleh cuaca ekstrem.
Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa penurunan suhu
udara ini merupakan siklus musiman yang normal terjadi saat wilayah Indonesia
memasuki masa puncak musim kemarau, bukan karena adanya fenomena cuaca ekstrem.
Berdasarkan rilis edukasi mengenai BMKG: Bediding Fenomena Musiman,
penurunan suhu ini murni disebabkan oleh pergerakan massa udara.
Berdasarkan
Data Fisis Udara Dingin BMKG,
terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan penurunan suhu secara signifikan di
wilayah Jawa, termasuk Kota Madiun:
1. Aliran Monsun Dingin Australia
Saat
ini, Belahan Bumi Utara sedang mengalami musim panas, sedangkan Australia
memasuki musim dingin. Perbedaan tekanan udara tersebut menyebabkan massa udara
dingin dan kering bergerak dari Australia menuju Asia melewati Indonesia.
Aliran udara yang dikenal sebagai angin timuran atau Monsun Australia ini
membawa udara dengan suhu lebih rendah ke wilayah Jawa, Bali, hingga Nusa
Tenggara.
2. Ketiadaan Tutupan Awan (Clear Sky)
Pada
musim kemarau, pembentukan awan cenderung rendah sehingga sinar matahari dapat
memanaskan permukaan bumi secara maksimal pada siang hari. Namun saat malam,
panas yang tersimpan di permukaan bumi dilepaskan kembali ke atmosfer. Karena
tidak ada awan yang menahan radiasi panas tersebut, energi panas lebih cepat
terlepas ke luar angkasa sehingga suhu udara turun secara signifikan, terutama
menjelang dini hari.
3. Rendahnya Kelembapan Udara
Massa
udara dari Australia memiliki karakteristik kering dengan kandungan uap air
yang rendah. Kondisi ini membuat panas tubuh lebih cepat berpindah ke
lingkungan sekitar sehingga udara terasa lebih dingin di kulit dibandingkan
kondisi normal.
BMKG
mencatat bahwa pada periode Juni hingga Agustus, suhu udara di dataran rendah
seperti Kota Madiun dapat turun hingga mencapai kisaran 19 derajat Celsius
sampai 21 derajat Celsius pada dini hari. Angka ini berada di bawah rata-rata
suhu normal harian wilayah setempat.
BMKG
mencatat, selama periode Juni hingga Agustus, suhu udara di dataran rendah
seperti Kota Madiun dapat mencapai kisaran 19 hingga 21 derajat Celsius pada
dini hari. Suhu tersebut berada di bawah rata-rata suhu harian yang biasa
dirasakan masyarakat pada musim penghujan.
Fenomena
ini juga dirasakan langsung oleh warga. Raihan, pemuda asal Kota Madiun,
mengaku suhu udara pada malam hari beberapa hari terakhir terasa jauh lebih
dingin dibandingkan biasanya.
"Baru
beberapa hari ini terasa lebih dingin. Di kulit rasanya benar-benar menusuk,
jadi kalau keluar malam sebaiknya memakai jaket," ujarnya saat ditemui di
ruang terbuka di Kota Madiun, Senin (29/6), kemarin.
Menurut
Raihan, udara malam di Kota Madiun saat ini bahkan mengingatkannya pada suasana
di kawasan wisata Telaga Sarangan yang berada di dataran tinggi Kabupaten
Magetan.
"Kalau
dibandingkan dengan Sarangan, menurut saya sudah hampir mirip dinginnya,"
katanya.
Selama
kondisi ini berlangsung, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan
dengan mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam atau dini hari,
memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi akibat udara kering,
serta menjaga daya tahan tubuh selama musim kemarau.
Masyarakat
diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan fisik selama masa puncak kemarau ini
dengan mengenakan pakaian hangat atau jaket saat beraktivitas di luar ruangan
pada malam dan pagi hari, serta menjaga kecukupan konsumsi air putih untuk mencegah
dehidrasi akibat udara kering.
Informasi
lebih lanjut mengenai fenomena bediding dan data cuaca terkini dapat diakses
melalui laman resmi BMKG di https://www.bmkg.go.id
pada menu Edukasi Cuaca dan Informasi Meteorologi.
(Sasmito/Selintas
Media)

Join the conversation