Inilah Rumus Weton Jawa Untuk Perjodohan, Pelajari Dulu Sebelum Cintamu Kandas Begitu Saja
Selintas
Media- Di kalangan anak muda Jawa, ujian pacaran itu levelnya beda. Saat anak
muda daerah lain pusing mikirin "dia bales chat-nya lama" atau
"malam minggu bingung mau makan apa", anak muda Jawa punya
momok yang jauh lebih kolosal: Pemeriksaan
Weton secara Sembunyi-sembunyi.
Biasanya
cerita ini dimulai dengan sangat manis. Kamu baru PDKT atau baru jadian
beberapa bulan. Lagi lucu-lucunya. Eh, tiba-tiba di satu sore yang tenang,
pacarmu kirim pesan singkat:
"Mas/Mbak,
ibuku takon kowe lahir jam berapa sama hari apa?"
Seketika,
tenggorokan terasa kering. Kamu tahu, detik itu juga, kalkulator gaib milik
calon mertua sedang bekerja menyeleksi nasib hubunganmu.
Dan
benar saja. Baru mau menikmati indahnya kasmaran, kamu langsung dihantam vonis
hitungan neptu: katanya nggak cocok karena ketemunya angka sial. Belum lagi
kalau diteliti lebih jauh: ternyata kamu anak nomor 1 dan dia anak nomor 3
(konsep Jilu/Loro Luwolu yang katanya bikin rezeki seret), atau arah
rumah orang tua kalian kalau ditarik garis lurus malah ngalor-ngulon
(utara-barat laut) yang dianggap pantangan.
Efeknya?
Banyak pasangan muda yang panik, patah semangat, terus milih mundur sebelum berperang.
Padahal, logika kebudayaan Jawa itu enggak sekeram itu!
Jangan Nunggu 5 Tahun Baru
Tanya Weton
Salah
satu kesalahan fatal anak muda zaman sekarang adalah menganggap weton itu
urusan nanti pas mau akad. Ini keliru. Justru di fase awal pacaran atau PDKT,
mengetahuinya adalah langkah strategis.
Mengetahui
weton dari awal itu bukan berarti kamu percaya mitos 100%, melainkan sebagai
bentuk antisipasi. Ibaratnya, kamu cek BMKG sebelum jalan-jalan. Jadi kalau
ketahuan ada hitungan yang "lampu kuning", kamu dan pacar punya
banyak waktu buat menyusun taktik dan nyari jalan keluar sebelum terlanjur
cinta mati lalu dipaksa putus.
Kebudayaan Jawa Itu Punya
"Piranti" (Solusi/Cheat Code)
Ini
yang jarang dipahami orang luar atau generasi muda yang telanjur panik. Leluhur
Jawa itu membuat sistem perhitungan bukan buat mematikan cinta atau membatasi
jodoh, melainkan sebagai warning system (sistem peringatan) agar
pasangan lebih waspada dan mawas diri.
Hebatnya,
untuk setiap "masalah" perhitungan, Jawa selalu menyiapkan piranti alias sarana
penyelarasan/penyeimbang:
- Kasus Anak No. 1 Ketemu No. 3 (Jilu): Kalau orang tua
khawatir setengah mati dengan kombinasi ini, ada prosedur budaya bernama "Daku Anak" (diangkat
anak secara simbolis). Sebelum melangkah ke jenjang serius, salah satu
dari kalian diakui secara adat sebagai anak oleh paman, bibi, atau kerabat
lain. Secara "sistem petung", posisi urutan anaknya sudah
bergeser. Simbolis emang, tapi ampuh bikin pikiran orang tua adem.
- Neptu Ketemu Angka Sial: Nggak perlu keburu
drama mau kawin lari. Biasanya ada sarana penyeimbang berupa pencarian hari baik (dina apik)
yang nilai angka-harinya dirancang khusus untuk "menutup"
kekurangan neptu kalian, disempurnakan dengan syukuran/bancakan
kecil-kecilan sebagai bentuk permohonan keselamatan.
- Arah Rumah Ngalor-Ngulon atau
Ngetan-Ngidul:
Kalau arah rumah dianggap berbenturan, solusinya bukan membongkar rumah
orang tua. Cukup dengan rekayasa rute perjalanan adat (muter jalan) saat
irang-iringan, atau mengakali lokasi tinggal pertama setelah menikah.
Mencari Titik Temu Antara
Tradisi dan Logika
Weton
itu sebenarnya mirip proyeksi risiko dalam dunia bisnis. Kalau ramalan bilang
"risikonya tinggi", jawaban cerdas kita bukan membatalkan bisnisnya,
melainkan memperkuat manajemen risikonya.
Piranti,
doa, dan ritual penyeimbang adalah bentuk penghormatan kita pada tradisi dan
ketenangan orang tua. Setelah syarat adat dialami untuk mengamankan jalur
"restu", tugas kamu dan pacar tinggal membuktikan secara logika:
saling memahami, siap berjuang bareng, lan pintar mengelola komunikasi.
Jadi,
buat kamu yang baru pacaran dan tiba-tiba dapat kabar kalau hitungan weton
kalian "kurang pas", jangan buru-buru galau sambil putar lagu sedih
di kamar.
Ajak
pacarmu duduk bareng, diskusi dingin, cari tahu piranti-nya ke orang
tua/sesepuh yang bijak (bukan yang suka menakut-nakuti), lalu jalani solusinya.
Karena pada akhirnya, orang Jawa yang bijak itu selalu luwes: Tradisi dihormati, restu digenggam, dan cinta
tetap bisa berlayar sampai tujuan!
(Sasmito/Selintas Media)

Join the conversation