7 Kebiasaan Orang Madiun yang Baru Terasa Ajaib dan Bikin Kangen Setelah Merantau
Selintas Media- Buat warga asli Madiun dan sekitarnya, hidup
di kampung halaman itu terasa biasa-biasa saja. Semuanya berjalan begitu
natural: tetangga lalu-lalang menyapa, bau bumbu tumisan dari wajan sebelah
menerobos jendela kamar, atau tiba-tiba piring berisi nasi gurih lengkap dengan
serundengnya mampir ke meja makan.
Tapi coba tunggu sampai kamu mengemas koper, naik kereta
dari Stasiun Madiun, lalu resmi menetap di kota perantauan. Di tengah
riuk-pikuk kota besar yang serba individualis dan menghitung segala sesuatu
pakai rupiah, pikiranmu mendadak stuck dan tersadar: “Lho, ternyata
kebiasaan di kampungku dulu itu ajaib banget, ya?”
Berikut adalah 7 kebiasaan khas warga Madiun yang baru kamu
sadari keunikannya dan betapa mewahnya setelah hidup merantau.
1. Aweh-aweh / Ater-ater
Di Madiun, kalau ada tetangga yang punya hajatan, syukuran,
atau sekadar menang arisan RT, makanan bakal meluncur ke rumahmu tanpa perlu
instal aplikasi ojek online. Namanya aweh-aweh atau ater-ater.
Uniknya, tradisi ini punya aturan tidak tertulis soal
"piring kembali". Piring bekas ater-ater pantang balik dalam
keadaan kosong melompong. Minimal diisi balik dengan kue pasar, buah, atau
kalau lagi tanggal tua, diisi ucapan terima kasih yang tulus dari lubuk hati.
Begitu merantau? Jangankan dikirim makanan. Tetangga kamar
kos sebelah lagi goreng telur mata sapi saja aromanya cuma bisa kita nikmati
dari celah pintu tanpa kepastian bakal dibagi.
2. Rewang
Keluarga mau bikin hajatan? Orang Madiun nggak langsung
pusing mikirin biaya sewa catering puluhan juta. Cukup kasih kabar ke
tetangga kanan-kiri, dalam hitungan jam ibu-ibu se-RT bakal berkumpul membawa
pisau, talenan, dan bumbu dapur masing-masing.
Rewang bukan sekadar urusan kupas bawang atau potong daging. Ini
adalah forum diskusi warga, pusat gosip paling update, sekaligus ajang
menguji ketahanan fisik. Di perantauan, konsep gotong royong dapur ini berganti
jadi lembaran faktur event organizer yang angkanya bikin elus dada.
3. Seduluran
Di Madiun, kata "sedulur" itu fleksibelnya bukan
main. Teman SD, kawan seperguruan silat, anak tetangga desa sebelah, sampai
orang yang baru kenal lima menit di warung kopi pun bisa mendadak jadi
"sedulur". Kalau sudah merasa seduluran, urusan
tolong-menolong itu gerak cepat tanpa pakai kalkulator untung-rugi.
Di rantau, kamu baru paham betapa mahalnya rasa percaya.
Menemukan orang yang mau menyapa tulus tanpa ada "udang di balik
batu" rasanya serumit mencari jarum di tumpukan jerami.
4. Peladen / Sinoman
Kalau ibu-ibu sibuk menguasai dapur lewat rewang,
para pemuda dan bapak-bapak punya panggung mulia tersendiri: peladen
atau sinoman. Berbalut kemeja rapi atau batik senada, mereka dengan
sigap dan cekatan membawa nampan berisi piring dan gelas untuk para tamu
hajatan.
Semua dilakukan tanpa bayaran, murni atas dasar solidaritas
antarwarga. Bandingkan dengan kota besar, di mana tenaga waiter per
jamnya sudah dihitung masuk ke dalam anggaran operasional venue.
5. Sambatan
Mau bedah rumah, menaikkan genteng, atau menggeser kandang?
Di Madiun, kamu tinggal bilang ke tetangga: "Mas, besok sambatan,
ya." Tanpa perlu nota kesepakatan, besok paginya warga sudah kumpul
membawa cangkul dan palu. "Gaji" mereka? Cukup kopi hitam hangat,
gorengan renyah, dan es teh manis.
Setelah merantau, kamu baru sadar kalau tenaga manusia itu
harganya mahal luar biasa. Minta tolong geser lemari di kosan saja kadang bikin
canggung kalau tidak sambil nraktir makan siang.
6. Mbecek / Buwuh
Mbecek atau buwuh (datang ke hajatan sambil membawa amplop
atau sembako) bukan sekadar formalitas kondangan ala Madiun. Ini adalah bentuk
investasi dan asuransi sosial yang rapi. Apa yang kamu keluarkan untuk tetangga
hari ini, bakal berputar dan kembali lagi saat kamu gentian punya hajatan
nanti.
Sistemnya berasaskan kegotongroyongan yang hangat. Di
rantau, kondangan sering kali terasa sekadar "datang, foto di photobooth,
makan, lalu pulang" tanpa ada ikatan batin yang membekas.
7. Jagong
Ada tetangga melahirkan? Jagong baby. Ada yang
meninggal? Jagong lelayu. Ada yang mau hajatan besok? Jagong
jelang hari-H. Jagong adalah tradisi menemani tuan rumah hingga larut
malam sambil ngobrol santai, main catur, atau sekadar menyeruput kopi.
Fungsinya simpel tapi dalam: memastikan tuan rumah tidak
merasa sendirian saat sedang punya hajatan besar maupun ketika berduka. Di
perantauan, saat kamu lagi sedih atau ketakutan setengah mati, opsi terbaik
yang kamu punya sering kali cuma menyalakan AC dan memeluk guling sendirian.
Pada akhirnya, merantau memang melatih kita untuk mandiri
dan serba bisa. Tapi di saat yang sama, merantau pulalah yang menyadarkan kita:
hangatnya kebersamaan dan interaksi sosial ala Madiun itu tidak pernah ada di
daftar menu restoran mewah mana pun di perantauan.
(Sasmito/Selintas Media)

Join the conversation