Misteri Teman Madiun dari Muka Garang Sampai Hati Tetap Humble
Selintas Media- Punya teman
asal Madiun itu hiburan gratis sepanjang hari. Orang luar sering terkecoh.
Dikira kota pendekar isinya cuma orang yang siap pasang kuda-kuda tiap ketemu
di jalan, padahal begitu diajak ngobrol di angkringan, jalan pikirannya sering
bikin geleng-geleng kepala.
Biar kamu tidak kagok dan tetap
aman saat bergaul dengan mereka, ini lima tanda unik yang wajib kamu pahami.
Buka mata, simak pelan-pelan.
1.
Modus Bahas Hal Penting Jebulnya Suwung
Pesan masuk jam tujuh malam
berbunyi, "Bro, penting iki, ndang rene!"
Kamu pasti langsung panik.
Pikiran melayang membayangkan krisis besar atau urusan hidup dan mati. Tanpa
pikir panjang kamu langsung meluncur ke lokasi.
Sampai di warkop dengan
napas terengah-engah, dia cuma nyruput es teh sambil nyeletuk santai, "Iki
lho, aku bingung... pitikku kok yen turu miring kanan ya, ora miring
kiwo?"
Itulah standar kata
"penting" bagi mereka. Tidak harus urusan negara. Hal random, absurd,
dan sama sekali tidak berguna bagi peradaban adalah topik paling hangat yang
wajib didiskusikan sampai tuntas.
2.
Janjian Ngopi Jam 6 Sore Tiba di Lokasi Jam 8 Malam
Madiun punya konversi waktu
yang cukup artistik dalam urusan nongkrong. Pesan teksnya berbunyi sangat
mantap, "Yo wis, ngopi jam 6 sore ya!"
Sebagai orang yang
menghargai waktu, kamu datang jam enam kurang lima menit. Tempat masih sepi,
mas-mas warkop baru menata kursi. Kamu tunggu dengan sabar sambil menghabiskan
tiga gelas es teh dan dua piring tahu isi.
Tepat jam delapan malam,
sosoknya baru muncul tanpa dosa sambil menyapa renyah, "Lho, wis suwe
ta bro?"
Jam enam bagi mereka adalah
jam untuk mulai wacana bergerak. Jam tujuh baru mandi, lalu jam delapan adalah
waktu yang benar-benar pas untuk menginjakkan kaki di tempat ngopi.
3.
Perang Dingin via Status WA dan Instagram Stories
Jangan kaget kalau
tiba-tiba media sosial isinya sindiran tajam berlevel akademis tinggi.
Kata-katanya ampuh, pedas, dan menusuk dada.
Pola dramanya seperti ini:
- Si A membuat status, "Luwih
becik dewean tinimbang duwe kancan tapi lali pas penak."
- Dua menit kemudian, si B membalas, "Yen
rumangsa ditilep, jalen kelakuanmu dewe."
Padahal kalau kamu samperin
ke tongkrongan jam delapan malam, si A dan si B ini sedang duduk berdampingan
sambil patungan bayar gorengan. Status boleh menusuk hati, tapi aslinya mereka
cuma senang merawat estetika kedewasaan yang sedikit dramatis.
4.
Spesialis Wacana dan Dokumentasi Hidup
Ciri khas berikutnya adalah
rajin mengunggah status kehidupan. Pagi hari membuat cerita running atau
jogging lengkap dengan aplikasi olah raga dan motivasi. Siang sedikit
memasang kutipan bijak, lalu sorenya mengunggah foto pantai bertuliskan, "Next
destination, butuh refreshing."
Apakah rencana liburan itu
akan terealisasi? Tentu saja tidak.
Bagi mereka, yang penting
adalah perencanaan dan citra hidup sehatnya masuk ke media sosial dulu. Soal
berangkat atau tidak, itu urusan takdir dan saldo rekening belakangan. Yang
penting gaya dulu, wacana nomor satu.
5.
Walaupun Absurd Tetap Humble Tiada Dua
Di balik segala kerandoman,
waktu jam karet, dan perang status yang estetik itu, anak Madiun punya satu
keunggulan mutlak. Sikap humble-nya luar biasa.
Mau dia menang lomba
tingkat nasional, naik jabatan, atau punya kendaraan baru, kalau diajak
nongkrong tetap mau lesehan di trotoar. Sapaannya tetap renyah, tidak pelit
ilmu, dan selalu terbuka dengan siapa saja. Kehangatan khas inilah yang membuat
kawan-kawan dari luar daerah selalu betah dan rindu untuk kembali.
Punya teman Madiun itu
bikin hidup lebih berwarna. Kalau mereka mengajak janjian ngopi jam 6 sore,
datanglah jam 8 malam biar kamu tidak perlu jadi penjaga warkop. Cukup pesan es
teh, nikmati gorengannya, dan rayakan kerandomannya!
(Sasmito/Selintas Media)

Join the conversation