Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

9 Kebiasaan yang Bikin Orang Lereng Lawu Punya Karakter Khas

 

Suasana Masyarakat yang Begitu Akrab- Dok. (Gemini Ai)

Selintas Media- Masyarakat yang tinggal di kawasan lereng Gunung Lawu punya kehidupan yang cukup dekat dengan alam dan tradisi Jawa. Kondisi geografis, udara pegunungan, pekerjaan sebagai petani, hingga budaya Mataraman ikut membentuk kebiasaan warga dalam bekerja dan bersosialisasi.

Berikut sejumlah karakter dan kebiasaan yang masih mudah ditemui di kehidupan masyarakat lereng Lawu.

1. Terbiasa bekerja keras

Hidup di kawasan pegunungan membuat masyarakat terbiasa dengan aktivitas fisik. Sejak pagi, warga sudah beraktivitas di ladang, mengurus ternak, atau mencari pakan.

Kontur tanah yang menanjak dan cuaca dingin menjadi bagian dari keseharian mereka. Kondisi tersebut membuat aktivitas kerja membutuhkan ketahanan fisik dan kebiasaan bekerja sejak pagi.

2. Ramah kepada orang yang datang

Keramahan menjadi bagian penting dalam pergaulan warga. Orang yang berpapasan di jalan desa masih kerap disapa, terutama oleh warga yang lebih tua.

Ungkapan seperti "Monggo, Mas/Mbak, pinarak" atau silakan mampir menjadi salah satu bentuk kesopanan yang masih dikenal dalam kehidupan sehari-hari.

3. Punya sikap sumeleh

Sumeleh menggambarkan sikap tenang dan menerima keadaan setelah berusaha. Nilai ini berkaitan dengan pandangan hidup Jawa, termasuk prinsip nrimo ing pandum.

Ketika menghadapi hasil panen yang kurang baik atau harga sayuran turun, warga tetap menjalani kehidupan dan kembali berusaha.

4. Gotong royong masih kuat

Tradisi sambatan masih dikenal di sejumlah desa. Ketika ada warga membangun rumah, memperbaiki lingkungan, atau menggelar hajatan, tetangga dapat datang membantu tanpa mengharapkan bayaran.

Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bentuk hubungan sosial yang masih kuat di masyarakat pedesaan.

5. Anak-anak akrab dengan permainan dari alam

Lingkungan sekitar juga menjadi tempat bermain bagi anak-anak. Bambu dapat dibuat menjadi egrang, pelepah pisang menjadi pethokan, sementara blarak atau daun kelapa kering bisa digunakan untuk bermain.

Permainan sederhana tersebut tumbuh dari kreativitas anak-anak dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar mereka.

6. Nama "Lawu" sering dipakai untuk usaha

Identitas daerah juga muncul dalam dunia usaha. Nama seperti "Putra Lawu" dan "Anak Lawu" digunakan untuk berbagai usaha, mulai dari warung, bengkel, hingga jasa angkutan.

Nama Lawu menjadi penanda asal sekaligus identitas lokal yang melekat pada masyarakatnya.

7. Flanel, jeans, sampai batik Bermotif

Pakaian sehari-hari juga menyesuaikan kondisi lingkungan. Kemeja jeans flanel maupun celana jeans cukup umum digunakan karena cocok dengan udara dingin dan aktivitas warga.

Saat menghadiri hajatan, sebagian anak muda memilih batik bermotif, selain motif Parang, Mega Mendung, dan Batik Sidomukti serta ragam jenis lainnya, batik klub sepak bola, seperti motif Manchester United, Chelsea, atau AC Milan kemudian dikenal sebagai "batik bola".

8. Bahasa kepada orang tua tetap dijaga

Pengaruh budaya Mataraman terlihat dari cara masyarakat berkomunikasi. Anak muda kepada orang yang lebih tua masih menggunakan bahasa krama dalam situasi tertentu.

Penggunaan bahasa tersebut menjadi bagian dari unggah-ungguh atau tata krama dalam kehidupan sosial masyarakat.

9. "Moro, Takok", rokok jadi pembuka obrolan

Ada pula kebiasaan sosial yang dikenal dengan ungkapan "moro, takok", yakni datang dan bertanya. Dalam pergaulan tertentu, menawarkan rokok dapat menjadi cara membuka percakapan ketika seseorang masuk ke lingkungan baru.

Setelah obrolan terbuka, pembicaraan biasanya berlanjut lebih santai. Kebiasaan ini menunjukkan bagaimana hal sederhana dapat menjadi bagian dari cara warga membangun komunikasi dan kedekatan sosial.