Inflasi Kota Madiun 0,46 Persen pada Agustus 2026, Lebih Tinggi dari Jawa Timur dan Nasional
Selintas
Media
— Inflasi Kota Madiun pada Agustus 2026 mencapai 0,46 persen secara bulanan.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi gabungan 11 kabupaten/kota di
Jawa Timur sebesar 0,34 persen dan inflasi nasional yang tercatat 0,21 persen.
Data tersebut tercantum
dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, Selasa (1/9), kemarin. Secara tahunan,
inflasi Kota Madiun juga berada di atas rata-rata Jawa Timur dan nasional.
BPS mencatat inflasi
tahunan Kota Madiun pada Agustus 2026 mencapai 3,41 persen. Sementara itu,
inflasi Jawa Timur tercatat 3,32 persen dan inflasi nasional sebesar 3,19 persen.
Kenaikan harga paling besar
secara bulanan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok
tersebut memberikan andil 0,33 persen terhadap inflasi Kota Madiun pada
Agustus.
Daging ayam ras menjadi
komoditas yang paling besar mendorong inflasi. Harganya naik 18,02 persen
dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,22 persen.
Kenaikan juga terjadi pada
sejumlah bahan pangan lain. Harga beras meningkat 1 persen dengan andil 0,04
persen, cabai rawit naik 11,05 persen dengan andil 0,04 persen, pisang naik
6,20 persen dengan andil 0,03 persen, serta air kemasan naik 1,37 persen dengan
andil 0,02 persen.
Untuk inflasi tahunan,
sejumlah komoditas juga menjadi penyumbang utama kenaikan harga. Bensin dan
daging ayam ras masing-masing memberikan andil 0,24 persen, disusul beras
sebesar 0,22 persen, emas perhiasan 0,17 persen, dan cabai rawit 0,14 persen.
Kenaikan harga pangan
tersebut turut dipengaruhi kondisi cuaca. Analisis Stasiun Klimatologi BMKG
Jawa Timur menunjukkan curah hujan pada Dasarian II Agustus 2026 secara umum
berada dalam kriteria rendah.
Kondisi kemarau yang
berlangsung di sejumlah wilayah produksi berdampak terhadap pasokan beberapa
komoditas pangan. Berkurangnya pasokan kemudian ikut mendorong kenaikan harga
di tingkat pasar.
Namun, tidak semua
komoditas mengalami kenaikan harga. Pasokan bawang merah yang melimpah selama
periode panen raya di sejumlah daerah sentra produksi nasional justru mendorong
penurunan harga di Kota Madiun.
Harga bawang merah tercatat
mengalami deflasi 19,41 persen dan memberikan andil -0,09 persen terhadap
inflasi. Tomat juga mengalami penurunan harga sebesar 30,53 persen dengan andil
-0,04 persen.
Pergerakan harga sejumlah
komoditas tersebut membuat tekanan inflasi di Kota Madiun pada Agustus tetap
berada pada angka 0,46 persen. Meski demikian, laju tersebut masih lebih tinggi
dibandingkan rata-rata Jawa Timur maupun nasional.
(Sasmito/Selintas Media)

Join the conversation