Mengapa Tubuh Sering Ingin BAB di Pagi Hari? Ini Penjelasan Dokter
Selintas
Media —
Keinginan buang air besar (BAB) pada pagi hari berkaitan dengan cara tubuh
mengaktifkan kembali sistem pencernaan setelah tidur. Saat seseorang bangun dan
mulai beraktivitas, gerakan usus meningkat hingga memunculkan dorongan untuk
BAB.
Dokter umum dr. Lutfi Aulia
Rahman, yang pernah bertugas di RSUD Kota Madiun, RSUD Dungus, dan RSAU dr.
Efram Harsana, menjelaskan bahwa selama tidur gerakan usus melambat. Ketika
bangun, perubahan jam biologis membuat otak mengirimkan sinyal saraf untuk
kembali mengaktifkan sistem pencernaan.
Setelah tubuh mulai
bergerak, usus besar atau kolon melakukan kontraksi kuat yang disebut High-Amplitude
Propagating Contractions (HAPC). Gerakan tersebut mendorong sisa pencernaan
dari usus besar menuju rektum.
Ketika rektum mulai terisi
dan meregang, saraf di dinding rektum mengirimkan sinyal ke otak. Respons
inilah yang kemudian menimbulkan rasa mulas dan dorongan untuk BAB. “Tubuh
sebenarnya sudah memiliki alarm alami pada pagi hari untuk mengaktifkan sistem
pencernaan,” jelas dr. Lutfi, Selasa (22/9), kemarin.
Kebiasaan setelah bangun
tidur, seperti minum air hangat, minum kopi, atau sarapan, dapat menjadi
rangsangan tambahan. Kondisi ini berkaitan dengan refleks gastrokolik,
yaitu respons ketika lambung terisi makanan atau minuman dan kemudian
merangsang gerakan usus besar.
Menurut Lutfi, air hangat
dapat membantu proses BAB menjadi lebih lancar. Sementara itu, kopi, baik
berkafein maupun tanpa kafein, dapat merangsang kontraksi otot polos pada usus
besar.
Meski demikian, kopi dan
air hangat bukan syarat mutlak untuk BAB pada pagi hari. Sistem pencernaan
tetap memiliki mekanisme alami untuk bekerja setelah seseorang bangun.
Dari sisi frekuensi, pola
BAB setiap orang juga dapat berbeda. Lutfi menyebut rentang tiga kali sehari
hingga tiga kali seminggu masih termasuk normal selama konsistensi tinja baik,
tidak terlalu keras atau cair, serta tidak disertai nyeri saat mengejan.
“Yang perlu diperhatikan
adalah perubahan pola yang mendadak dan menetap,” kata Lutfi.
Perubahan tersebut antara
lain frekuensi BAB yang tiba-tiba jauh berkurang atau menjadi diare
berkepanjangan. Tinja yang terus-menerus berukuran kecil dan memanjang,
munculnya darah merah segar, atau tinja berwarna hitam pekat juga perlu
diwaspadai.
Keluhan lain seperti nyeri
perut hebat, rasa BAB tidak tuntas, serta penurunan berat badan drastis tanpa
sebab yang jelas juga menjadi tanda yang perlu diperiksakan ke dokter.
(Sasmito/Selintas Media)

Join the conversation