Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Nama Arab Berlidah Jawa, Jejak Akulturasi Islam dan Budaya di Masyarakat

 


 

Ilustrasi Masyarakat Jawa- Sumber KITLV

Selintas Media — Nama seperti Muhammad, Ahmad, Abdul, Fatimah, dan Aisyah sudah lama digunakan masyarakat Jawa. Namun, dalam percakapan sehari-hari, sejumlah nama tersebut kerap mengalami perubahan pelafalan yang mengikuti kebiasaan bahasa Jawa.

Misalnya, Hasan dapat dilafalkan menjadi Kasan, sedangkan Husain dikenal pula dengan pelafalan Husen atau Kusen. Perubahan bunyi tersebut bukan sekadar persoalan pengucapan, tetapi menjadi bagian dari proses pertemuan budaya Islam dan Jawa.

Ketua Komunitas Sejarah Kota Madiun HVM Madiun, Septian, mengatakan penggunaan nama Arab di Jawa berkembang seiring meluasnya penyebaran Islam. Pada masa itu, masyarakat mengenal ajaran dan istilah bahasa Arab antara lain melalui kiai dan lembaga pendidikan keagamaan.

"Nama-nama dari bahasa Arab mulai diadopsi masyarakat dan kemudian hidup berdampingan dengan nama-nama lokal Jawa," ujar Septian saat diwawancarai, Senin (7/9), kemarin.

Menurutnya, semakin luasnya pembelajaran agama membuat masyarakat semakin mengenal istilah dan pelafalan bahasa Arab. Namun, ketika digunakan dalam kehidupan sehari-hari, pengucapannya dapat menyesuaikan dengan karakter bunyi yang lebih akrab bagi penutur Jawa.

Septian menjelaskan, penyesuaian itu salah satunya terjadi karena terdapat bunyi atau konsonan dalam bahasa Arab yang tidak mudah diucapkan oleh sebagian penutur Jawa. Masyarakat kemudian menyederhanakan pengucapan agar lebih mudah digunakan.

"Orang-orang Jawa itu menyederhanakan pengucapannya. Dengan menyebut Husen, Kasan, atau Jumilah, itu lebih mempermudah," katanya.

Fenomena serupa juga terlihat dalam istilah yang berkembang dalam budaya Jawa. Septian mencontohkan Jamus Kalimasada dalam pewayangan yang kerap dikaitkan dengan kalimat syahadat.

Menurutnya, penggunaan unsur bernuansa Islam dalam tradisi lokal menunjukkan bahwa penyebaran agama juga berlangsung melalui penyesuaian dengan budaya yang telah hidup di masyarakat. Unsur baru tidak selalu hadir dalam bentuk aslinya, tetapi dapat berbaur dengan kebiasaan setempat.

Penggunaan nama Arab yang awalnya lebih banyak ditemukan di kalangan tokoh agama dan lingkungan kerajaan kemudian semakin meluas ke masyarakat. Seiring waktu, nama-nama tersebut menjadi bagian dari identitas yang digunakan lintas kelompok sosial.

Fenomena nama Arab dengan pelafalan khas Jawa pun masih dapat ditemukan hingga kini. Perubahan tersebut menjadi salah satu contoh bahwa akulturasi Islam dan budaya Jawa tidak hanya terlihat dalam tradisi, tetapi juga dalam bahasa dan cara masyarakat menyebut nama.

 

(Sasmito/Selintas Media)