Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

PSHT Pusat Madiun Dorong Toleransi dan Kebinekaan Lewat Pengajian Lintas Agama

 

Foto Bersama Petinggi PSHT dengan Para Seniman Pendekar- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Selintas Madiun — Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun menggelar pengajian yang melibatkan unsur lintas agama dan budaya di Padepokan Agung Graha Krida Budaya, Jalan Merak No. 17, Kota Madiun, Sabtu malam (5/9), kemarin. Kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat toleransi, kebinekaan, sekaligus menjaga Madiun tetap aman dan damai.

Ketua Umum, Drs. H. R. Moerdjoko H.W., mengatakan kegiatan bertema “Sinergi Budaya dan Religi di Kota Pendekar” tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir Persaudaraan Setia Hati Terate ke-104 Tahun.

Konsep kegiatan tidak hanya menghadirkan penceramah dari kalangan Islam, tetapi juga melibatkan rohaniwan lintas agama. Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Irjen Pol R. Ahmad Nurwahid dan Dr. Gus Dai Robi dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

Menurut Moerdjoko, keberagaman yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari pesan yang ingin dibangun melalui perpaduan nilai religi dan budaya. Unsur budaya turut ditampilkan melalui seni pencak silat yang dikemas dalam cerita kebinekaan serta pertunjukan Jaranan Sentherewe oleh mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

“SH Terate itu sangat inklusif. Kita menampilkan budaya pencak silat dalam bentuk cerita kebinekaan yang menggambarkan Bhinneka Tunggal Ika,” kata Moerdjoko.

Ia menegaskan, nilai toleransi harus berjalan seiring dengan sikap kebangsaan. Warga PSHT diminta memegang teguh Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta menjauhi tindakan anarkis maupun permusuhan.

“Kalau warga SH Terate masih senang melakukan perbuatan anarkis atau bermusuhan dengan sesama bangsanya, itu tidak menunjukkan jiwa SH Terate,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pusat, H. Issoebiantoro, S.H., menilai keberagaman merupakan salah satu nilai yang perlu terus dirawat dalam kehidupan organisasi maupun masyarakat. Menurutnya, PSHT dapat diterima berbagai suku dan latar belakang karena tidak membedakan keyakinan.

“SH Terate bisa diterima di segala suku bangsa karena berdasarkan kepercayaan oleh agama itu kita tidak dibedakan,” kata Issoebiantoro.

Ia menambahkan, nilai tersebut perlu diwujudkan melalui ajaran budi luhur, termasuk kemampuan membedakan perbuatan yang benar dan salah.

Melalui kegiatan tersebut, PSHT berharap semangat toleransi, kebinekaan, dan persaudaraan dapat terus tumbuh serta ikut menjaga Madiun sebagai kota yang aman, tenteram, dan damai.

(Sasmito/Selintas Madiun)