Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Teater Kaki Lima Puchi Mari Mari Keliling Jawa, Bawa Cerita Jepang ke Ruang Warga


Teater Puchi Mari-Mari dari Jepang Tampil dan Lekar dengan Masyarakat- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Selintas Media — Kelompok Teater Kaki Lima Puchi Mari Mari (TKLPMM) asal Jepang menggelar pentas keliling di berbagai ruang seni, sekolah, hingga pemukiman warga di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam perjalanan yang berlangsung pada 9–21 September 2026 ini, kelompok tersebut mementaskan dongeng serta folklor Jepang menggunakan bahasa Indonesia.

Sebanyak 13 pertunjukan digelar melintasi Wonogiri, Ponorogo, Madiun, Magetan, Solo, hingga Yogyakarta. Ruang pertunjukan yang dituju meliputi SMK, SMA, SD, SLB, sanggar seni, perpustakaan, ruang komunitas, hingga halaman rumah warga di tingkat RT dan desa.

Rangkaian pentas ini dihimpun dalam program Handai Taulan yang diinisiasi oleh Kelompok Hidup, sebuah kolektif seni budaya di Yogyakarta. Melalui program ini, kerja produksi pertunjukan dilakukan secara gotong royong bersama komunitas lokal di daerah tujuan.

Inisiasi ini digerakkan oleh Aik Vela Pratisca; pegiat teater, seniman, fasilitator, penulis, dan pengajar asal Magetan, bersama Ficky Tri Sanjaya, praktisi seni yang aktif mementaskan pantomim, teater, tari, serta seni peran sejak kelas IV SD.

Pentas yang Memberikan Sebuah Pesan Kehidupan- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Aik Vela, selaku Manajer Program Handai Taulan, menjelaskan bahwa program ini menjadi wadah fasilitasi yang terbuka bagi personal, komunitas, hingga lembaga untuk bertemu langsung dengan masyarakat.

“Pergelaran Handai Taulan digelar secara gotong-royong antar-komunitas pada titik wilayah yang dituju,” ujar Aik.

Ia menegaskan, skema kerja sama gotong royong ini dirancang demi membuka pola produksi kesenian yang kreatif serta inklusif di daerah. Langkah tersebut diambil agar aktivitas seni pertunjukan tidak hanya terpusat di kota-kota besar yang fasilitas dan pendanaannya lebih memadai.

Lintas Budaya Teater Jepang bersama Indonesia- Dok. (Kelompok Hidup)

Dramaturgi Ruang dan Keadilan Bahasa

Sebagai pengamat peristiwa yang memantau langsung proses ini, saya melihat bagaimana dramaturgi bekerja bukan sekadar teknis penyusunan komposisi pertunjukan teater. Dalam kacamata sosiologi, dramaturgi memandang interaksi sosial manusia sebagai pertunjukan drama di atas panggung kehidupan. TKLPMM mempraktikkan kedua hal tersebut secara langsung di lapangan.

Penggunaan bahasa Indonesia oleh para aktor menjadi salah satu bagian penting. TKLPMM tidak sekadar menerjemahkan teks dari bahasa Jepang secara harfiah, tetapi melakukan penyesuaian kontekstual agar cerita dapat dipahami oleh penonton setempat.

Proses alih bahasa ini melibatkan tim pendamping dan penerjemah yang terdiri dari Faisal Nur Amirudin, Lilin Murdiastuti, Angfreaga Elang Fratama Driputram, dan Ali Rumi Assyifa. Peran Ficky dan Aik menjadi krusial dalam menyelaraskan naskah agar alur percakapan terasa pas saat dipentaskan.

Ficky Tri Sanjaya, selaku Dramaturg Program Handai Taulan, menekankan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dilakukan demi mewujudkan kesetaraan interaksi. Menurutnya, penggunaan bahasa Inggris yang sering dipakai dalam pertunjukan internasional justru menjadi bahasa yang sama-sama asing bagi kedua belah pihak.

“Bahwa penghargaan keragaman bahasa dan komunikasi bukan merupakan persoalan,” tutur Ficky.

Ia menambahkan, melalui pendekatan langsung yang kontekstual ini, isu kesenjangan bahasa yang selama ini kerap menjadi sekat dapat diselesaikan melalui media teater.

Pentas Teater Puchi Mari-Mari di Kenongomulyo- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Simplifikasi Artistik: Belajar Melepas Ambisi

Secara visual, TKLPMM menerapkan pendekatan artistik yang sederhana. Formasi aktor Gen Z yang tampil pada tur kali ini Hotaka, Taishi, Ncu, dan Monja, menggunakan kostum kaus atau kemeja hitam yang dipadukan dengan celana berwarna serupa. Tidak ada penggunaan tata rias karakter yang tebal di wajah mereka.

Set panggung pun tidak menggunakan instalasi fisik yang rumit atau tata cahaya buatan yang kompleks. Panggung dibiarkan berupa ruang kosong yang kemudian diisi lewat gerak tubuh, olah vokal, ekspresi wajah, dan permainan imajinasi para aktor.

Langkah simplifikasi artistik ini bukan sekadar urusan efisiensi logistik atau efisiensi kargo. Bagi saya, pilihan ini membawa pelajaran bahwa sebuah pertunjukan maupun kehidupan tidak perlu dirumitkan oleh ambisi visual yang berlebihan. Ketika ego artistik dilepaskan, hal paling mendasar dari kesenian justru muncul: kejujuran ekspresi dan perjumpaan antarmanusia.

Pada sejumlah lokasi pertunjukan, para aktor sengaja memangkas jarak fisik dengan mendekat ke arah penonton. Cairnya sekat antara pemain dan penonton ini membuat penonton dari berbagai latar usia dapat langsung merespons cerita, humor, serta emosi lakon yang disajikan. Hal ini mengingatkan bahwa pertunjukan sebaiknya tidak dinilai dari tampilan luar (cover), melainkan dari nilai seni dan isi ceritanya.

Pementasan di SDN Kepuhrejo- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Catatan Perjalanan dan Dinamika Lapangan

Rangkaian kegiatan dimulai sejak kedatangan rombongan di Yogyakarta International Airport pada 9 September 2026. Setelah menjalani persiapan di Purwantoro pada 10–11 September, pentas perdana digelar di SMKN 1 Puhpelem, Wonogiri, pada 11 September. Sehari setelahnya, pada 12 September, TKLPMM tampil di Sanggar Seni Granggang Suh.

Perjalanan berlanjut ke Madiun pada 14 September dengan tiga agenda pertunjukan sekaligus, yakni di SMAN 1 Madiun, SLB Bethel, serta Omahkoe Madiun yang juga diisi dengan latihan bersama dan diskusi santai. Memasuki 15 September, rombongan tampil di pemukiman warga RT 05 Desa Kenongomulyo. Rangkaian di lingkungan sekolah dasar berlanjut pada 16 September di SD Negeri Kenongomulyo, SD Negeri Kepuhrejo, dan SD Negeri Jokerto 1.

Tur kemudian mengarah ke Perpustakaan DBuku pada 17 September, disusul pertunjukan di Rumah Banjarsari bersama Komunitas Dongeng Solo pada 18 September. Memasuki wilayah Yogyakarta, pertunjukan digelar di RT 27 Celeban, Tahunan pada 19 September, sebelum ditutup di Yabbiekayu pada 20 September. Rombongan dijadwalkan kembali melalui Yogyakarta International Airport pada 21 September.

Sepanjang rangkaian pentas, proses latihan dan diskusi santai turut didampingi oleh saya Aji Sasmito pengamat peristiw, bersama Shobrina Nisau Shofaroh sebagai pengamat peristiwa, Ony S. selaku penanggap peristiwa, serta jajaran pemerhati teater seperti Dwi (Owner Omah Koe Madiun), Sapta, Mamik, Dwi Atmoko RRI, Panji Dosen, dan pelaku seni teater lainnya.

Di Desa Kenongomulyo, warga yang sudah lama tidak menyaksikan tontonan teater atau pantomim secara langsung memberikan sambutan yang sangat hangat. Kehadiran para aktor di tengah pemukiman warga menghadirkan suasana perjumpaan yang hidup.

Cerita Folklore Teater Puchi Mari-Mari- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Jejaring Kultural dan Teater sebagai Ruang Jeda

Penyelenggaraan tur di 13 lokasi berbeda dalam waktu singkat ini dapat terlaksana berkat modal sosial dan kultural yang kuat. Kolaborasi gotong royong yang dibangun oleh tim kerja Kelompok Hidup, Aik Vela, Ficky Tri Sanjaya, saya Aji Sasmito, Dwi Omah Koe, Shobrina Nisau Shofaroh, dan Ony S., bersama para mitra lokal membuktikan pentingnya komunikasi dan relasi dalam ekosistem seni.

Kebersamaan lintas komunitas ini bekerja seperti prinsip dasar dalam cerita One Piece: untuk mengarungi ruang yang luas dan mencapai tujuan besar, dibutuhkan kerja sama tim yang kuat, meskipun tiap anggotanya memiliki latar belakang yang berbeda. Kebersamaan itulah yang membangun daya emosional bersama.

Di tengah rutinitas harian yang padat, pentas keliling TKLPMM hadir memberi jeda sejenak bagi warga. Sebagai seni pertunjukan, teater memiliki keluwesan untuk menyesuaikan diri dan masuk ke dalam ruang-ruang keseharian masyarakat. Ia hadir sebagai media interaksi yang jujur, menghadirkan tawa, serta merawat hubungan sosial tanpa harus bergantung pada kemewahan gedung pertunjukan formal.

 

(Sasmito/Selintas Media)