Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

BPS Kota Madiun Rilis Indikator Strategis: Inflasi September Capai 0,27 Persen dan Kunjungan Wisatawan Nusantara Tembus 211 Ribu Perjalanan

 

 Area Pahlawan Street Center (PSC) Kota Madiun- Dok. (Sasmito/Selintas Media)

Selintas Media — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, Abdul Aziz, menyampaikan rilis Berita Resmi Statistik (BRS) terkait perkembangan indikator strategis daerah secara langsung melalui siaran kanal YouTube BPS Kota Madiun pada Kamis, 1 Oktober 2026.

Rilis tersebut memaparkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) serta tingkat inflasi periode September 2026, sekaligus indikator pariwisata dan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel periode Agustus 2026.

BPS Kota Madiun mencatat IHK Kota Madiun berada pada angka 111,46 pada September 2026. Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Kota Madiun mengalami inflasi sebesar 0,27 persen dibandingkan Agustus 2026.

Angka inflasi bulanan ini tercatat melandai dibandingkan inflasi Agustus 2026 yang sebesar 0,46 persen, namun lebih tinggi jika dibandingkan periode September 2024 (-0,14 persen) dan September 2025 (0,03 persen).

Secara tahun kalender (year-to-date/y-to-d), inflasi Kota Madiun tercatat sebesar 2,34 persen. Sedangkan secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi September 2026 mencapai 3,66 persen, naik dari bulan sebelumnya (3,41 persen) dan menjadi yang tertinggi untuk bulan yang sama dalam tiga tahun terakhir.

Pada September 2026, inflasi bulanan (m-to-m) Kota Madiun sebesar 0,27 persen, lebih tinggi dari gabungan 11 Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang sebesar 0,24 persen, namun lebih rendah dari angka Nasional sebesar 0,30 persen.

Sementara itu, inflasi tahun kalender (y-to-d) Kota Madiun sebesar 2,34 persen merupakan yang tertinggi di antara 11 Kabupaten/Kota IHK di Jawa Timur, berada di atas rata-rata Jawa Timur sebesar 2,07 persen dan Nasional sebesar 2,17 persen.

Untuk inflasi tahunan (y-on-y), Kota Madiun tercatat sebesar 3,66 persen, berada di atas gabungan Jawa Timur sebesar 3,33 persen dan Nasional sebesar 3,28 persen.

Abdul Aziz menjelaskan bahwa fenomena cuaca berdasarkan analisis BMKG Jawa Timur, di mana curah hujan Dasarian II September 2026 umumnya dalam kriteria rendah akibat kemarau panjang menjadi pemicu naiknya harga pada komoditas beras dan hortikultura.

Selain itu, terdapat pula penyesuaian kenaikan harga BBM non-subsidi oleh Pertamina, sementara BBM jenis Pertalite tetap.

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,18 persen.

Komoditas dominan penyuplai inflasi antara lain cabai rawit dengan inflasi 22,37 persen dan andil 0,09 persen, daging ayam ras dengan inflasi 4,79 persen dan andil 0,07 persen, telur ayam ras dengan inflasi 5,73 persen dan andil 0,05 persen, beras dengan inflasi 0,89 persen dan andil 0,04 persen, serta jeruk dengan inflasi 7,53 persen dan andil 0,03 persen.

Di sisi lain, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga pada beberapa barang dan jasa. Ketimun mengalami deflasi 36,55 persen dengan andil -0,03 persen, minyak goreng deflasi 3,67 persen dengan andil -0,04 persen, wortel deflasi 11,67 persen dengan andil -0,02 persen, serta bawang merah deflasi 5,41 persen dengan andil -0,02 persen.

Harga bawang merah dapat ditekan karena beberapa sentra produksi di Indonesia sedang memasuki masa panen raya.

Dalam kesempatan yang sama, Abdul Aziz memaparkan tingkat penghunian kamar hotel dan pergerakan wisatawan pada Agustus 2026.

TPK Gabungan berada di angka 38,12 persen, turun dibanding Juli 2026 yang sebesar 41,43 persen, namun meningkat jika dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 37,05 persen.

TPK Hotel Berbintang tercatat sebesar 52,68 persen, turun 1,75 poin dibanding Juli 2026. Sementara TPK Hotel Non-Bintang dan Akomodasi Lainnya tercatat sebesar 26,30 persen, turun 4,63 poin dibanding Juli 2026.

Jumlah tamu menginap di hotel berbintang tercatat sebanyak 21.794 orang, sedangkan hotel non-bintang sebanyak 13.236 orang. Total keseluruhan tamu mencapai 35.030 orang, mengalami penurunan dibandingkan Juli 2026 yang berjumlah 36.755 orang.

Untuk rata-rata lama menginap, tamu Nusantara tercatat 1,23 malam. Khusus hotel berbintang, angka tersebut turun dari 1,27 malam pada Juli menjadi 1,22 malam pada Agustus.

Sementara tamu asing memiliki rata-rata lama menginap 1,56 malam. Khusus hotel berbintang, angka tersebut meningkat dari 1,50 malam pada Juli menjadi 1,65 malam pada Agustus.

Berdasarkan data Mobile Positioning Data (MPD), jumlah pergerakan wisatawan Nusantara ke Kota Madiun pada Agustus 2026 mencapai 211.100 perjalanan, meningkat dari bulan Juli 2026 yang sebanyak 208.847 perjalanan.

Secara kumulatif dari Januari hingga Agustus 2026, total pergerakan wisatawan Nusantara ke Kota Madiun telah menembus 1.692.089 perjalanan.

 

(Sasmito/Selintas Media)