Diskusi "Ngopi Anget V2" Perpustakaan Kota Madiun; Selamatkan Naskah Kuno di Tengah Gempuran Digital
Selintas
Media- Di tengah percepatan era digital, memori kolektif sebuah peradaban
rentan tergerus oleh kebisingan informasi harian. Pertanyaan mendasarnya:
sejauh mana masyarakat modern hari ini masih mengenali jejak masa lalunya? Hal
inilah yang dibedah dalam ruang diskusi literasi budaya bertajuk "Ngopi
Anget V2" (Ngobrol Pintar Antar Generasi) yang diinisiasi Dinas
Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun di Rumah Makan Srasadesa, Selasa malam
(3/11), kemarin.
Bukan
sekadar agenda seremonial, forum ini memusatkan perhatian pada urgensi
pelestarian naskah kuno dan manuskrip lokal sebagai fondasi identitas kultural.
Menghadirkan dua narasumber kompeten yakni Drs. Ismail Lutfi, M.A., arkeolog
sekaligus epigraf Universitas Negeri Malang dan anggota TACB Jawa Timur,
bersama Rendra Agusta, filolog dari Sraddha Institute Surakarta, diskusi
membedah manuskrip bukan sebagai tumpukan kertas usang, melainkan cermin
sosiologis.
Dalam
pemaparannya, arsip masa lalu tersebut merekam dinamika psikologis hingga cara
leluhur merespons krisis di masanya. Tantangan utamanya kini adalah bagaimana
menerjemahkan "suara masa lalu" agar relevan dibaca oleh generasi
digital yang akrab dengan layar gawai, bukan sekadar merawat fisik kertas atau
daun lontar.
Kehadiran
Plt Wali Kota Madiun, F. Bagus Panuntun, memberikan dimensi kebijakan terhadap
ekosistem literasi. Pemerintah daerah berkomitmen membuka ruang seluas-luasnya
bagi simpul diskursus publik, diiringi filter ketat agar kegiatan intelektual
berdampak nyata.
"Kalau
untuk event-event di Kota Madiun, saya sejak dari awal sudah open. Siapapun
yang mau bikin event pasti saya beri ruang, tetapi saya pasti akan mereview
kualitasnya dulu untuk memfilter kualitas kegiatan agar standarisasi tetap
terjaga," ujar Bagus saat
diwawancarai.
Pernyataan
ini menuntut para penggerak literasi agar kebebasan berekspresi senantiasa
diimbangi dengan gagasan substansial, bukan sekadar menggugurkan kewajiban
program kerja.
Langkah
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menghadirkan program berkala tanpa pungutan
biaya patut diapresiasi untuk meruntuhkan sekat eksklusivitas. Dengan membuka
akses dialog secara terbuka, sejarah dan manuskrip kuno tidak lagi dipandang
sebagai domain eksklusif para peneliti di menara gading.
Sebab,
merawat manuskrip pada akhirnya adalah ikhtiar sadar untuk merajut masa depan
Madiun agar berakar kuat pada identitas peradabannya sendiri.
(Sasmito/Selintas Media)

.jpeg)
.jpeg)
Join the conversation