Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Filipina Sudah "Lampu Merah", Indonesia Kapan Menyusul "Meriang" Minyak?

 

Suasana Ibukota Filipina Manila- (Dok.AntaraNews.com)

Selintas Media- Kabar dari utara sedang tidak baik-baik saja. Krisis energi menyergap Manila setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memutus jalur pasokan di Timur Tengah.

Presiden Ferdinand Marcos Jr. baru saja meneken Perintah Eksekutif Nomor 110 per akhir Maret 2026, yang menetapkan status Darurat Energi Nasional. Filipina kini terjepit; cadangan BBM mereka hanya tersisa untuk 45 hari akibat ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi urat nadi minyak dunia.

Kondisi ini bukan sekadar urusan domestik tetangga. Bagi Indonesia, jeritan Filipina adalah peringatan dini. Laporan terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa harga minyak mentah bisa meroket hingga 150 USD per barel jika konflik di Teluk Persia tak kunjung mereda. Sebagai negara net importer minyak, Indonesia kini berdiri di tepi jurang. Pilihannya pahit: membiarkan APBN jebol untuk subsidi atau menaikkan harga BBM di tengah daya beli yang sedang diuji.

Dampak domino ini mulai terasa di pasar regional. Analisis dari S&P Global Commodity Insights menyebutkan bahwa negara-negara Asia Tenggara kini mulai berebut sisa pasokan minyak di pasar Singapura (MOPS).

Jika Filipina sanggup membayar lebih mahal untuk mengamankan stok darurat mereka, harga acuan bensin di kawasan kita akan terkerek naik secara otomatis. Situasi ini menjelaskan mengapa wacana penghematan energi melalui pola kerja jarak jauh mulai mengemuka kembali di lingkungan Kemenpan-RB belakangan ini.

Di sisi lain, Indonesia memang mendapat "cuan" dadakan dari lonjakan ekspor batu bara karena Filipina terpaksa beralih ke pembangkit listrik non-minyak. Namun, Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) mengingatkan bahwa keuntungan tersebut hanyalah tambal sulam yang semu. Nilai ekspor batu bara tak akan pernah sanggup menutup lubang besar biaya impor minyak yang harganya sudah tidak masuk akal.

Filipina sudah mulai "sesak napas". Pertanyaannya, seberapa kuat napas kita jika tangki bensin tiba-tiba menjadi barang mewah? Konflik AS-Iran mungkin terasa jauh secara geografis, namun dampaknya kini sedang mengetuk pintu dapur dan setiap putaran gas kendaraan kita di tanah air.

 

 

(Sas/SelintasMedia)