Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Garuda Bebek! Menunggangi Kendaraan Dewa Wisnu yang Bikin “Ngajak Sugih”

 


Ilustrasi Motor Garuda- (Dok. Gemini Ai)

Selintas Media- Banyak orang mengira bahwa untuk merasakan sensasi naik kendaraan Dewa Wisnu, kita harus pergi jauh-jauh ke Bali dan menatap patung tembaga raksasa di GWK. Padahal, bagi saya dan segelintir kaum "terpilih" lainnya, sensasi itu cukup dirasakan dengan memutar kunci kontak dan menekan pedal kick starter sebuah motor bebek bermerek Garuda.

Ya, Garuda. Bukan Garuda Indonesia yang sayapnya membentang di angkasa, tapi Garuda roda dua yang knalpotnya kadang batuk-batuk kecil kalau telat ganti oli.

Cantik itu Luka, dan Garuda itu Estetika

Harus diakui, secara visual, motor Garuda bebek ini adalah personifikasi pepatah “Cantik itu Luka.” Penampilannya menarik, lekuknya mengingatkan pada kejayaan Honda Supra X yang legendaris, dengan sentuhan rebranding lokal yang berani.

Memandangnya dari jauh seperti melihat gebetan masa SMA: manis dan menjanjikan. Namun begitu didekati, terlihat bahwa bodinya rentan sekali terkena benturan, bagian plastiknya bisa langsung pecah. Tapi justru di situlah seninya: estetikanya terletak pada keberaniannya tampil menyerupai raja jalanan meski bodinya tipis.

Mesin Bandel: Si Irit yang “Ngajak Sugih”

Kalau bicara soal mesin, di sinilah keajaiban terjadi. Garuda bebek ini seolah-olah punya perjanjian gaib dengan SPBU. Saya sering merasa motor ini tidak meminum bensin, tapi hanya "mencium aromanya" saja. Saking iritnya, saya sering lupa kapan terakhir kali membuka tutup tangki.

Iritnya motor Garuda ini adalah jalan pintas menuju sugih (kaya). Bayangkan, uang yang seharusnya habis untuk membeli Pertamax demi gengsi motor sport, bisa dialihkan untuk cicilan emas atau sekadar beli kopi sachet sambil meratapi nasib di pinggir jalan.

Mesinnya kuat, bandel, dan seolah punya nyawa cadangan. Diajak nanjak oke, diajak kerja keras bagai kuda juga hayu. Pokoknya, urusan irit dan ketahanan mesin, motor Jepang pun harus sungkem pada Sang Garuda ini.


Ilustrasi Kegagahan Motor Garuda Bebek- (Dok. Edit Gemini)

Transmisi yang Sering "Mager"

Namun, sebagaimana manusia yang punya titik lemah, Garuda saya ini punya masalah di bagian transmisi. Kadang-kadang, perpindahan giginya terasa seperti sedang bernegosiasi dengan birokrasi pemerintahan: keras, alot, dan butuh kesabaran ekstra. Ada kalanya dia enggan pindah gigi seolah-olah sedang "mager" (malas gerak).

Tapi hei, bukankah burung Garuda pun tidak setiap saat mengepakkan sayapnya dengan sempurna? Kadang dia perlu sedikit sentuhan kasih sayang (atau injakan kaki yang agak keras) agar mau berpindah ke gigi berikutnya.

Sensasi Naik Burung Garuda Wisnu Kencana

Menunggangi motor ini di jalanan desa memberikan sensasi yang tidak akan didapatkan oleh pemilik motor matic bongsor masa kini. Saat kecepatan menyentuh 60 km/jam, angin menerpa wajah, dan getaran mesin merambat ke seluruh tubuh, di situlah saya merasa benar-benar sedang menunggangi kendaraan Dewa Wisnu.

Bukan karena kesaktiannya, tapi karena saya merasa sedang melayang di antara realitas harga motor yang mahal dan kenyataan bahwa saya tetap bisa gaya dengan modal seadanya. Garuda bebek ini bukan sekadar alat transportasi, dia adalah simbol perlawanan terhadap arus konsumerisme.

Bagi saya, motor Garuda bukan sekadar besi tua. Dia adalah kawan setia yang mengajarkan bahwa untuk merasa tinggi (seperti naik burung Garuda), kita tidak perlu motor mahal. Cukup dengan bebek irit yang transmisi-nya suka ngadat, tapi sanggup membawa kita menuju gerbang kekayaan karena saking iritnya.

Cinta Tak Logis, Garuda Tiada Dua

Bagi saya, Garuda bebek ini tiada dua. Ia adalah saksi bisu perjuangan yang tak pernah berkhianat, meski "cantiknya luka" tapi iritnya bikin kaya.

Apalah arti motor mahal yang mulus tanpa cela, jika tak ada drama perpindahan gigi yang bikin kaki pegal namun hati riang? Di atas joknya, saya bukan cuma naik motor, tapi merayakan ketidaksempurnaan yang hakiki.

 

(sas/selintasmedia)