Jangan Ngaku Cah Madiun-Ponorogo Kalau Belum Pernah Merasakan Sensasi "Diterjang" Angin Jendela Bus Cendana
Selintas Media- Di dunia yang serba AC dan kaca tertutup rapat, ada satu kemewahan purba yang hanya dipahami oleh mereka yang sering melintasi jalur Madiun-Ponorogo: sensasi "diterjang" angin jendela Bus Cendana.
Mengutip dari akun Instagram
@selintasmadiun, Bagi anak-anak yang tumbuh besar di tahun 2000-an di sekitar
Madiun, Bus Cendana bukan sekadar moda transportasi. Ia adalah saksi perjalanan
menuntut ilmu, perjuangan mencari nafkah, hingga saksi bisu kisah cinta monyet
yang bermula dari bangku terminal.
Kemewahan di Balik Tiket Dua
Puluh Ribu
Saat ini, di tengah gempuran
kendaraan pribadi, memilih untuk naik bus dari kawasan Madiun menuju Terminal Selo Aji Ponorogo adalah
sebuah pilihan yang sangat "waras". Dengan tarif sekitar Rp20.000, kita tidak hanya membeli
jarak tempuh, tapi juga membeli ketenangan batin.
Di dalam Bus Cendana, tidak ada
sekat kelas sosial yang kaku. Kita duduk berdampingan dengan siapa saja, mulai
dari pedagang pasar hingga mahasiswa yang pulang kampung. Puncaknya adalah saat
bus mulai menambah kecepatan; jendela yang terbuka lebar akan menyajikan
simfoni angin yang menerpa wajah. Ya, hembusan anginnya memang kadang bikin
dahi dingin dan rambut berantakan, tapi di saat yang sama, ia sanggup
menguapkan penat di kepala.
Kedaulatan Diri di Atas Kursi Bus
Memilih naik bus adalah bentuk
apresiasi terhadap diri sendiri. Kita menanggalkan ego sebagai pengemudi,
berhenti mengumpat di tengah kemacetan, dan menyerahkan kendali pada sopir yang
sudah hafal setiap jengkal aspal jalur ini. Kita hanya perlu duduk manis,
menikmati pemandangan RSUD Dolopo yang terlewati perlahan, dan membiarkan diri
kita melamun dengan tenang.
Ini adalah perlawanan terhadap
budaya serba cepat yang melelahkan. Di Bus Cendana, perjalanan 30 hingga 40
menit terasa begitu manusiawi. Kita diajak untuk kembali menikmati proses,
bukan sekadar memikirkan kapan sampai di tujuan.
Identitas yang Tertinggal di
Terminal
Jadi, kalau kamu mengaku anak
Madiun atau Ponorogo tapi belum pernah merasakan sensasi pipi yang
"ditampar" lembut oleh angin jendela Bus Cendana, mungkin
kedaulatanmu sebagai warga lokal perlu dipertanyakan kembali. Karena bagi kami,
Bus Cendana adalah rumah berjalan yang menghubungkan dua kota dengan
benang-benang memori yang tak akan pernah putus.
Biarlah rambut acak-acakan saat
turun di Selo Aji, yang penting finansial tetap aman, hati riang, dan kita
tidak perlu berutang energi hanya untuk sekadar sampai ke tujuan.
(sas/selintamedia)

Join the conversation