Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Kendi Tanah Liat dan Melodi Kebaikan dari Pelataran Rumah Warga Jawa

 

Sepasang Kekasih yang Tengah Mengambil Air Minum di Kendi Depan Rumah- (Dok. Gemini Ai)

Selintas Media- Di tengah gempuran modernisasi dan air minum kemasan, tradisi penyediaan kendi di depan rumah masyarakat Jawa menyimpan filosofi sosial yang mendalam. Kendi tanah liat yang dahulu jamak ditemukan di pelataran rumah atau pagar warga, bukan sekadar wadah air, melainkan simbol keterbukaan dan kepedulian antarsesama.

Ketua komunitas sejarah Historie Van Madioen (HvM), Septian Dwita Kharisma, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang lahir dari kebutuhan praktis masyarakat di negara tropis. Pada masa lalu, saat transportasi umum belum tersedia dan jalan kaki menjadi aktivitas utama, ketersediaan air minum di area publik menjadi sangat vital.

"Kendi tersebut disediakan khusus untuk musafir, pedagang keliling, atau petani yang melintas. Ini adalah wujud etika sosial sekaligus cerminan bahwa masyarakat kita bukan masyarakat individualis," ujar Septian dalam keterangannya, Rabu (18/3), kemarin.

Penggunaan material tanah liat pada kendi bukan tanpa alasan teknis. Secara alami, pori-pori tanah liat mampu menjaga suhu air tetap dingin meskipun diletakkan di luar ruangan di tengah cuaca panas. Hal ini memberikan kesegaran instan bagi siapa pun yang meminumnya.

Secara fungsional, kendi ini dikenal sebagai “tombo ngelak” atau obat haus. Menariknya, terdapat aturan tidak tertulis di mana pelintas diperbolehkan meminum air tersebut tanpa perlu mengetuk pintu atau meminta izin kepada pemilik rumah.

"Pemilik rumah sengaja menaruhnya di area publik agar bisa langsung dimanfaatkan. Ini adalah bentuk sedekah air yang sangat praktis dan menunjukkan tingkat kepercayaan antarsasama yang tinggi pada masa itu," tambah Septian.

radisi penyediaan kendi ini juga berkaitan erat dengan keberadaan padasan atau gentong air untuk bersuci. Jika kendi berfungsi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi (minum), padasan yang biasanya diletakkan dekat pintu masuk atau tempat ibadah berfungsi untuk sanitasi, yakni mencuci tangan dan kaki sebelum memasuki bangunan.

Secara budaya, keberadaan benda-benda ini menandai identitas kuat sebuah pemukiman di Jawa. Hal ini membuktikan bahwa sejak dahulu, masyarakat memiliki sistem pendukung sosial yang mandiri dalam menjaga dan memedulikan kebutuhan dasar manusia tanpa memandang status sosial.

 

 

(Sas/SelintasMedia)