Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Melawan Obsesi "Gress": Mengapa Memilih Absen dari Ritual Berburu Uang Baru

 

Ilustrasi Kebebasan Finansial Ekonomi

Selintas Media- Ada satu aroma yang lebih magis dibanding ketupat menjelang Lebaran: aroma uang baru. Entah sejak kapan, lembaran kertas yang masih kaku, licin, dan berbau khas percetakan ini naik kasta menjadi simbol kesuksesan seorang perantau. Seolah-olah, memberikan salam tempel dengan uang "berpengalaman" (baca: lecek) adalah sebuah dosa sosial yang tak termaafkan di mata publik.

Fenomena berburu uang baru ini sudah seperti kompetisi tak kasat mata. Orang rela mengantre di bank sejak subuh, atau rela memutar otak demi mendapatkan pecahan dua ribuan sampai sepuluh ribuan yang masih gress. Tujuannya mulia: menyenangkan keponakan. Tapi di baliknya, ada gengsi yang dipertaruhkan di depan mata tetangga dan sanak saudara.

Slamet, seorang kawan lama yang lebih memilih kekeh pendirian. Di saat yang lain sibuk pamer bundel uang berplastik, Slamet justru santai-santai saja. Dari hasil obrolan saya dengannya, saya menemukan sebuah kedaulatan berpikir yang sangat waras.

Bukan Pelit, Hanya Ingin Dompet Tetap Waras

"Bagi saya, keamanan finansial itu harga mati, Mas. Nggak bisa ditukar cuma sama selembar kertas licin," ujar Slamet sambil menunjukkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan di dompetnya yang sudah 'berpengalaman, Rabu (4/3), kemarin.

Slamet sadar betul, nilai nominal Rp10.000 yang sudah melalang buana dari saku bergambar lidah rolling stone. Sayangnya, pilihan Slamet untuk "tidak ikut arus" ini seringkali memancing rasan-rasan yang menguji kesabaran. Di desa, telinga harus siap menjadi kedap suara saat bisik-bisik tetangga mulai terdengar: "Lho, kok uang salam tempelnya Slamet nggak kaku? Masa kerja di kota nggak bawa uang baru?"

Dulu, mungkin Slamet akan merasa tersindir. Tapi sekarang? "Maaf, saya lebih takut melihat saldo rekening yang sekarat setelah Lebaran daripada mendengar komentar tetangga yang nggak bakal bantu bayar cicilan saya sedikit pun," tegasnya. Slamet memilih untuk tidak fomo. Ia memilih jujur pada kapasitas kantong sendiri.

Kedaulatan Finansial di Atas Gengsi Lebaran

Memaksakan diri berburu uang baru, apalagi jika harus mengorbankan waktu kerja atau menambah biaya ekstra, bagi Slamet adalah sebuah bentuk "penyiksaan diri" yang dibungkus tradisi. Ia tidak anti uang baru, tapi ia anti pada tekanan sosial yang mengharuskan kita memiliki sesuatu hanya agar tidak dirasani.

Menjaga finansial tetap aman adalah bentuk self-care yang paling hakiki. Apa yang dilakukan Slamet dan juga ada yang tetap membagikan angpau sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri mencari yang baru, sebenarnya adalah sebuah perayaan kejujuran. Ini adalah cara kita berkata pada dunia: "Inilah kemampuan saya, dan saya bangga bisa berbagi tanpa harus pura-pura kaya."

Karena Lebaran Bukan Kontes Estetika Uang

Pada akhirnya, esensi hari raya adalah tentang ketulusan hati saat tangan saling berjabat, bukan tentang seberapa "krispi" bunyi uang saat amplop dibuka. Jika ada yang masih hobi menilai ketulusan seseorang dari tingkat kelicinan uangnya, ya biarlah itu jadi urusan mereka dengan Tuhan.

Cerita Slamet merupakan jalan ninja yang telah dipilih seseorang: Finansial aman, hati tenang. Biarlah uang kami tidak baru, yang penting niatnya tulus dan setelah Lebaran kami tidak perlu berutang demi makan sesuap nasi.

 

(sas/selintasmedia)