Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Menghitung Hidup di Madiun yang Katanya Mahal, dan Bikin Terasa Uji Nyali

 

Ilustrasi Gaya Hidup Soal Gaji

Selintas Media- Banyak orang yang hidup di Madiun Jawa Timur itu murah. Harga nasi pecel masih ada yang bersahabat di kantong, dan kopi sachet di angkringan pun belum semahal segelas latte di Jakarta Selatan. Tapi, benarkah hidup di Madiun semudah itu?

Dikutip melalui akun resmi @selintasmadiun, mari kita pakai logika matematika sederhana yang disebut “hitung-hitungan gaji UMR Madiun".

Gaji 2,6 Juta: Sebuah Angka, Banyak Harapan (Palsu)

Katakanlah gaji UMR Madiun ada di angka 2,6 juta rupiah. Kedengarannya cukup? Tunggu dulu. Mari kita preteli satu per satu seperti mempreteli onderdil motor tua.

Pertama, bayar listrik. Katakanlah habis 400 ribu. Sisa 2,2 juta. Lalu internet, karena manusia modern tidak bisa hidup tanpa kuota (dan tanpa scroll Reels), sisihkan lagi 200 ribu. Sisa 2 juta pas.

Sekarang untuk kebutuhan sehari-hari: makan, sabun, odol, dan tetek bengek lainnya. Taruhlah angka minimalis 1 sampai 1,5 juta. Sekarang dompet kamu tinggal berisi 500 ribu rupiah.

Jangan senang dulu. Ingat, kamu masih butuh bensin. Kalau motornya cuma satu dan cuma dipakai kerja, mungkin 400 ribu cukup. Tapi kalau motornya dua? Selamat, kamu resmi masuk ke zona merah dengan minus 300 ribu rupiah.

Siapa yang Menolong di Akhir Bulan? Halo, Paylater!

Pertanyaan besarnya: kalau setiap bulan minus, siapa yang menutupi lubang itu? Jawabannya sudah bisa ditebak: Paylater. Sebuah layanan yang awalnya terasa seperti malaikat penyelamat, tapi lama-kelamaan jadi benalu yang membuat gaji bulan depan cuma "numpang lewat" di rekening.

Kalau sudah begini, pilihannya cuma dua: cari ceperan jadi afiliator, jualan apa saja, atau yang paling penting (seperti kata mas-mas di video): ojo nge-slot (jangan main judi slot). Karena alih-alih melipatgandakan uang, yang ada malah melipatgandakan beban hidup.

Filosofi Hidup Resisten: Makan Besok Dipikir Hari Ini

Inilah istilah yang paling menarik dari video tersebut: "Hidup Resisten". Sebuah kondisi di mana pendapatan hari ini hanya cukup untuk menyambung nyawa esok hari. Besok lusa? Ya dipikir besok.

Mungkin inilah alasan kenapa banyak orang Madiun (dan sekitarnya) sangat menghargai undangan selamatan atau kenduri. Bukan cuma soal silaturahmi, tapi ada secercah harapan berupa kotak nasi yang bisa menyelamatkan anggaran makan untuk satu atau dua hari ke depan. "Iki kendurene neng ndi? Gampang to!" begitu kelakarnya.

Madiun, Kota Gadis (Gaji Tipis)?

Pada akhirnya, hidup di kota seperti Madiun dengan gaji UMR adalah sebuah seni bertahan hidup. Angka 2,6 juta itu seperti ilusi optik: terlihat cukup dari jauh, tapi begitu didekati, dia menghilang tertiup tagihan.


(sas/selintasmedia)