Rental PS 2! Jejak Kebahagiaan dan Ujian Kesabaran Generasi 2000-an Pada Masanya
Selintas Media- Tidak ada yang dapat disamakan oleh parfum semahal apa
pun di dunia ini, selain aroma pengap ruangan 3x4 meter yang berisi tumpukan
kabel semrawut, kipas angin berdebu, dan bau keringat anak SD yang nekat bolos
les demi mencetak gol lewat Roberto Carlos. Ya, selamat datang di mesin waktu
bernama Rental PS 2.
Bagi kita yang tumbuh di era 2000-an, Rental PS adalah tempat di mana
strata sosial runtuh. Tidak peduli anak orang kaya atau anak yang uang sakunya
pas-pasan hasil "nyatut"
kembalian belanja ibu, semua setara di depan layar tabung 14 inci.
Ritual "Ngisap" Optik dan Doa Sepertiga Malam
Keluh kesah utama kita dulu bukanlah soal lag atau koneksi
internet, melainkan satu musibah besar bernama "kaset tidak terbaca".
Kita semua pernah menjadi teknisi dadakan. Mulai dari mengelap kaset ke
baju (yang sebenarnya malah bikin baret), sampai ritual paling legendaris:
memiringkan mesin PS atau malah membaliknya 180 derajat. Ajaibnya, metode ini
seringkali berhasil. Entah karena hukum fisika atau karena mesinnya kasihan
melihat muka melas kita yang sisa waktunya tinggal 15 menit lagi.
Tragedi Memory Card yang Penuh
Ingat perasaan hancur saat sudah sampai di final Master League, tapi
ternyata Save Data kita ditimpa oleh anak lain? Atau lebih perih lagi,
saat kita membawa Memory Card 8MB dari rumah, dan ternyata isinya penuh karena
"data rusak". Di sana kita belajar merelakan. Kita belajar bahwa di
dunia ini, tidak ada yang abadi, termasuk progres karier di Become a Legend.
Derita Stik "Analog" yang Terkelupas
Bermain di rental adalah tentang keberuntungan mendapatkan stik yang
masih waras. Seringkali kita kebagian stik yang tombol R1-nya macet atau karet
analognya sudah hilang hingga menyisakan plastik tajam yang bikin jempol
kapalan. Belum lagi kalau lawan kita menggunakan trik "Curang" dengan memilih tim klasik yang larinya seperti
dikejar hantu, atau menggunakan formasi 2-3-5 yang tidak masuk akal tapi entah
kenapa selalu menang.
Masa Yang tidak Pernah Bisa Dibeli
Kini, grafis gim sudah mendekati kenyataan. Kita bisa main secara
daring dengan orang di belahan dunia lain. Tapi, ada yang hilang. Tidak ada
lagi teriakan "Woi, jangan dipencet start-nya pas lagi tendangan
bebas!" atau sensasi deg-degan saat abang rental berteriak, "Dek,
dua menit lagi habis!"
Masa itu memang syarat akan keterbatasan, tapi justru di sanalah letak
kemewahannya. Kita tidak hanya bermain gim; kita sedang merajut memori kolektif
yang, sayangnya, tidak punya tombol Load Game untuk diulang kembali.
(Sas/SelintasMedia)
.jpg)
Join the conversation