Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Road Jet Ski Dadakan, Genangan Telaga Berada di Tengah Kehidupan

Hujan Deras disertai Jalan Berlubang - (Dok.ChatGpt Ai)
 

Selintas Media-  Hujan merupakan gambaran ajaib yang bukan sulap maupun sihir. Begitu air turun, aspal mendadak berubah jadi telaga cokelat yang siap menguji seberapa besar kadar kemanusiaan di balik helm kita. Masalahnya, banyak pengendara motor yang mendadak merasa jadi atlet jet ski profesional begitu melihat genangan. Alih-alih ngerem, tangan kanannya malah gatal narik gas dalam-dalam. Hasilnya? Air comberan sukses pindah alamat ke baju pengendara lain dengan akurasi yang bikin geleng-geleng kepala.

Kelakuan begini adalah puncak krisis empati di aspal. Menghantam genangan dengan kecepatan tinggi itu bukan gagah-gagahan, tapi murni kurang ajar yang dibalut egoisme. Bayangkan orang di sampingmu sudah dandan rapi, kemeja licin habis disetrika, lalu dalam satu detik hancur berantakan gara-gara kamu pamer torsi mesin di atas air. Padahal rumusnya sederhana, “ojo banter-banter.” Pelan sedikit tidak akan membuatmu kiamat, tapi sangat menyelamatkan hari orang lain agar tidak basah kuyup oleh air sisa selokan.

Lagipula, melibas genangan dengan kecepatan tinggi itu cari penyakit. Kita tidak pernah tahu apa yang sembunyi di balik air keruh itu; bisa jadi lubang sedalam dendam mantan atau batu sebesar harapan orang tua yang siap bikin pelek motormu peyang seketika. Memelankan laju itu rasional dan manusiawi. Jalan raya di pemukiman itu ruang berbagi, bukan sirkuit pribadi milik kakekmu.

Intinya, menahan gas saat melintasi genangan adalah cara paling murah untuk tetap jadi manusia beradab. Jangan sampai karena kebelet cepat, kamu malah jadi "Slamet" baru yang disumpahi satu kecamatan sepanjang jalan. Berhenti jadi pembalap jet ski gadungan dan mulailah belajar ngerem sebelum cipratanmu merusak suasana hati dan pakaian orang lain.

(Sas/SelintasMedia)