Antara Syaraf Gigi Memberontak dan Hegemoni Mantan yang Belum Tuntas
Selintas
Media- Mengatakan bahwa sakit gigi lebih mending daripada sakit hati adalah
sebuah kesesatan berpikir yang nyata. Orang yang bicara begitu pasti belum
pernah merasakan bagaimana rasanya saat bakteri Streptococcus mutans
melakukan selebrasi di lubang geraham bawah, sampai-sampai bunyi sendok yang
beradu dengan piring terasa seperti ledakan granat di telinga.
Secara
medis, menurut penjelasan para ahli di Halodoc,
sakit gigi itu bukan sekadar urusan "kurang
rajin sikat gigi". Ada mekanisme peradangan pulpa di mana
syaraf-syaraf kita terjepit oleh tekanan infeksi. Ini adalah penderitaan yang
objektif, biologis, dan butuh penanganan instan kalau tidak mau seluruh fungsi
otak lumpuh hanya karena satu titik di gusi.
Namun,
mari kita geser ke ranah yang lebih abstrak tapi tak kalah perih: sakit hati.
Jika sakit gigi adalah serangan kuman, maka sakit hati adalah serangan struktur
kekuasaan dalam hubungan asmara. Secara sastra dan sosiologi, sakit hati sering
kali lahir dari hegemoni perasaan,
di mana salah satu pihak mendominasi memori dan ekspektasi pihak lain. Kita
merasa hancur bukan karena kehilangan orangnya secara fisik, tapi karena narasi
masa depan yang sudah kita susun rapi tiba-tiba didekonstruksi paksa oleh
sebuah kata "putus".
Dalam
kacamata sastra, asmara adalah teks yang kita baca bersama. Saat teks itu
berhenti di tengah jalan, kita mengalami kegagapan filologis, susah memaknai
ulang hari-hari yang biasanya penuh "good
morning" kini berubah jadi sunyi senyap. Rasa sakit ini subjektif,
tapi dampaknya ke psikis bisa lebih destruktif dibanding lubang gigi paling
dalam sekalipun.
Uniknya,
kedua jenis rasa sakit ini punya satu kesamaan: keduanya butuh pengakuan. Gigi
yang sakit butuh diakui keberadaannya oleh dokter gigi lewat tindakan medis,
sementara hati yang sakit butuh diakui oleh diri sendiri lewat proses healing
yang sering kali berakhir dengan check out keranjang Shopee yang tak
terkontrol.
Pada
akhirnya, penderitaan manusia itu memang berlapis-lapis. Kalau disuruh memilih,
lebih baik tidak keduanya. Tapi kalau memang harus memilih, saran paling masuk
akal adalah tetaplah menjaga kebersihan mulut. Kenapa? Karena menangisi nasib
asmara yang tragis itu sudah cukup berat, jangan ditambah beban harus mengunyah
bubur dengan gusi yang meradang. Hidup sudah cukup satir, jangan bikin makin
getir karena urusan geraham.
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation