Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Filosofi Teras: Seni Menemukan Hidup di Antara Gemuruh Riuh

Para Lancur dan Burung Dara Menikmati Kebersamaan- (Dok.Sas/SelintasMedia)
 

Selintas Media- Teras rumah yang sebenarnya adalah panggung teater paling jujur yang pernah diciptakan peradaban. Di atas ubin yang mungkin sudah mulai kusam itu, tidak ada kepalsuan ala filter Instagram atau pencitraan profesional. Yang ada hanyalah keriuhan ayam lancur yang sedang puber mencari jati diri, piyik yang masih gagap menghadapi dunia, dan burung dara yang tenang di singgasananya: pagupon.

Memelihara mereka bukan sekadar urusan hobi pengisi waktu luang atau investasi daging menjelang Lebaran. Ini adalah soal merawat kewarasan di tengah dunia yang makin berisik. Ada semacam kedaulatan mental saat kita duduk di teras, melihat ayam-ayam kampung itu berkumpul secara organik tanpa perlu undangan grup WhatsApp atau koordinasi yang rumit.

Dinamika sosial yang terjadi di atas ubin teras kita sebenarnya adalah tamparan keras bagi manusia modern. Ayam-ayam itu, meski berebut butiran jagung dan karak dengan kecepatan cahaya, mereka tidak pernah menyimpan dendam kesumat. Tidak ada ayam yang setelah kalah rebutan pakan lalu bikin status galau atau memutus tali silaturahmi. Mereka hidup untuk detik ini. Mereka mengajarkan kita tentang cara melepaskan ego yang sering kali kita bawa sampai tidur.

Lalu, coba tengok sedikit ke atas, ke arah pagupon yang nangkring dengan gagah di sudut rumah. Di sana, ada burung dara yang hidup dengan prinsip yang bikin kita, makhluk yang mengaku paling cerdas ini, merasa kurang pede.

Burung dara adalah simbol komitmen yang tidak butuh materai atau perjanjian pranikah. Di tengah zaman yang sedang hobi mengumbar istilah red flag atau ghosting, burung dara tetap konsisten dengan prinsip satu pasangan seumur hidup.

Mereka tidak butuh aplikasi kencan untuk mencari yang lebih cantik atau lebih gagah. Sekali mereka menemukan pasangan, pagupon itu bukan lagi sekadar kotak kayu, melainkan sebuah ikrar.

Ada pelajaran besar tentang kesetiaan yang mengalir di sana; bahwa rumah bukan soal seberapa megah bangunannya, tapi tentang dengan siapa kita berbagi ruang dan kasih sayang. Mereka terbang sejauh apa pun, tapi navigasi batinnya selalu menunjuk ke satu arah: jalan pulang.

Menghabiskan sore di teras bersama piyik yang baru belajar mematuk adalah cara paling sadar untuk berhenti sejenak dari tuntutan dunia yang serba cepat. Kita diajak untuk kembali ke akar, menyadari bahwa kebahagiaan itu sebenarnya sangat minimalis dan bisa ditemukan di tempat-tempat yang paling tidak terduga.

Pada akhirnya, teras rumah dan segala penghuninya adalah guru kehidupan yang tidak pernah menuntut bayaran sertifikasi. Mereka mengajarkan kita bahwa hidup sebenarnya tidak perlu muluk-muluk. Asal tahu kapan harus mencari makan, tahu siapa yang harus dijaga hatinya, dan tahu ke mana harus pulang saat hari mulai gelap, itu sudah lebih dari cukup untuk disebut sebagai hidup yang bermartabat.

 

 

(Sas/SelintasMedia)