Jalur Langit Orang Tua atau Saudara! Tips Bertahan Hidup Biar Nggak Kalah Start Sama Mereka
Selintas
Media- Menjelang kelulusan, atmosfer kampus atau sekolah menengah atas dan
sederajatnya terbagi menjadi dua bagian. Pertama, kelompok anak-anak darahnya
biru birokrasi menebar ketenangan dan semringah dari dalam hatinya. Mereka tipe
yang ijazahnya belum dijilid sudah dapat tinggal pilih. Kedua, kelompok pejuang,
para petarung dari desa, anak orang biasa yang orang tuanya nggak punya grup
WhatsApp berisi nama-nama penting.
Para petarung, toga itu bukan cuma kain hitam simbolis, tapi beban moral untuk mengubah
nasib keluarga. Masalahnya, dunia kerja itu sering kali bukan cuma soal
seberapa pintar kamu di kelas, tapi seberapa lebar jalan setapak yang sudah
dibukain jalurnya. Kalau kamu nggak punya privilege itu, tenang, jangan
dulu minder. Mari kita susun strategi gerilya ala rakyat petarung supaya tetap
bisa bertarung di ring yang sama.
Kalau
anak pejabat dapat relasi sambil makan siang di hotel bintang lima, petarung harus
jemput bola. Ikutilah acara sosial, forum komunitas, sampai acara kedinasan di
kota tempatmu merantau. Jangan cuma datang, duduk, lalu pulang bawa nasi kotak.
Cobalah berbaur, kenalan sama panitia, atau tanya-tanya ke pemateri. Di sana,
kamu bisa membangun "orang
dalam" buatanmu sendiri. Ingat, relasi itu dibangun, bukan cuma
ditunggu dari warisan bapak.
Jangan
gengsi kalau harus nyambi jadi driver ojek online atau jualan pulsa di
sela-sela bimbingan skripsi, menjelang kelulusan bahkan saat masih melaksanakan
studipun. Selain menambah uang jajan buat bayar fotokopi, kerjaan begini
melatih mentalmu menghadapi berbagai jenis manusia. HRD itu kadang lebih respek
sama sarjana atau lulusan yang sudah pernah "berdarah-darah"
di lapangan daripada yang cuma tahu teori tapi kaget pas ketemu tekanan dunia
nyata.
Kalau
kamu punya keahlian yang spesifik, maksimalkan. Punya hobi pelihara burung berkicau?
Tekuni sampai menang kontes, karena harga burung juara itu bisa buat modal
usaha atau biaya hidup setelah lulus. Suka oprek barang elektronik? Coba
peruntungan di jual-beli HP atau laptop bekas. Hobi yang produktif begini bakal
jadi jaring pengaman kalau seandainya ijazahmu butuh waktu sedikit lebih lama
untuk "laku" di pasar
kerja.
Kamera
di tanganmu bukan cuma buat foto makanan. Di zaman serba konten ini, kemampuan
dokumentasi itu mahal harganya. Belajarlah teknik fotografi atau videografi
sederhana pakai HP. Keahlian ini bisa jadi modal buat buka jasa content
creator kecil-kecilan untuk UMKM di daerahmu. Saat anak-anak ber-privilege
sibuk pamer koneksi, kamu sibuk pamer portofolio hasil keringat sendiri.
Intinya,
jadi sarjana tanpa relasi orang tua itu memang berat, tapi bukan berarti
kiamat. Dunia ini luas, dan pintu masuknya nggak cuma lewat satu gerbang "orang dalam". Selama kamu
punya skill, mental yang nggak gampang lembek, dan kemauan untuk "nimbrung" di mana saja, kamu
tetap punya peluang untuk menang di pertarungan yang sebenarnya. Mari kita
buktikan kalau anak orang biasa pun bisa punya masa depan luar biasa.
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation