Kaleodoskop, Mengenal QNB League 2015 Indonesia, Liga yang Manis Seperti Janji Kampanye
Logo Kompetisi QNB League Liga Indonesia- (Dok. Antara News)
Selintas Media- Kalau ada kompetisi olahraga paling tragis di negeri ini, gelar juara pertamanya jelas jatuh kepada QNB League 2015. Bayangkan saja, liga ini baru saja ditiupkan ruhnya, disponsori bank internasional yang tajir melintir, tapi mendadak vakum bahkan sebelum penonton sempat hafal urutan klasemennya.
QNB League itu ibarat kamu sudah dandan rapi, pakai parfum paling wangi buat kencan pertama, tapi begitu sampai di depan rumah si doi, eh pintunya malah dikunci dari dalam sama bapaknya. Tragis, sakral, sekaligus bikin pengin misuh di bawah pohon beringin.
Masalahnya klasik, yaitu hobi lama para pemangku kebijakan kita: berantem rebutan kuasa. Semua bermula ketika Kemenpora lewat BOPI merasa ada yang nggak beres dengan legalitas Arema Cronus dan Persebaya Surabaya. Namun, PSSI yang saat itu merasa punya "negara sendiri", tetap keras kepala menyertakan keduanya.
Ketegangan ini memuncak saat Menpora mengeluarkan surat sakti pembekuan PSSI pada 17 April 2015. Efeknya luar biasa instan. Kepolisian langsung menutup keran izin pertandingan, dan wasit-wasit yang kena imbasnya. PSSI akhirnya resmi menghentikan QNB League pada 2 Mei 2015 dengan alasan keadaan darurat atau force majeure.
Keadaan makin chaos ketika FIFA, sang "polisi dunia" sepak bola yang nggak suka urusannya dicampuri orang luar, akhirnya kehilangan kesabaran. Tepat pada 30 Mei 2015, sebuah surat dari Zurich datang membawa kabar buruk yang bikin seantero negeri lemas: Indonesia disuspensi. Sanksi FIFA ini membuat sepak bola kita terkucil dari pergaulan internasional.
Timnas nggak bisa main, klub-klub yang lagi asyik bertarung di level Asia seperti Persib dan Persipura terpaksa angkat koper dengan cara yang paling tidak terhormat. Sepak bola kita mendadak sunyi, sesunyi dompet mahasiswa di akhir bulan.
Kini, QNB League hanya jadi dongeng pengantar tidur yang pahit bagi para suporter. Ia adalah pengingat bahwa di negeri ini, ego para pejabat seringkali jauh lebih besar daripada kecintaan mereka pada olahraga itu sendiri. Para pemain yang tadinya berharap dapat gaji dari sponsor bank internasional, akhirnya harus rela main di turnamen tarkam demi menyambung hidup.
Kita belajar satu hal penting dari drama 11 tahun lalu ini: sehebat apa pun nama sponsornya, kalau pengurusnya masih hobi baku hantam, ya nasib liganya bakal tetap nyungkring dan berakhir di tong sampah sejarah.
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation