Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Perusak Lingkungan? Cari Tahu Disini

 

Penangkapan Ikan Sapu-Sapu di Sungai Menggunakan Jaring- (Dok. Iqbal Firdaus/Kumparan/ website IPB University Bogor Indonesia)

Selintas Media- Kalau ada penghargaan untuk kategori "Tamu yang Awalnya Sopan tapi Lama-Lama Ngelunjak," ikan sapu-sapu juaranya. Dulu, kita beli ikan ini buat jadi budak pembersih lumut di akuarium. Sekarang? Mereka justru jadi bos di sungai-sungai Jakarta hingga Bekasi, bikin ikan lokal makin terpinggirkan.

Kenapa demikian? Alasannya ikan ini mendadak jadi penguasa tunggal adalah daya tahannya yang benar-benar tidak masuk akal, atau bisa dibilang terlalu overpower. Di saat ikan nila atau mas butuh air yang agak bersih untuk sekadar bernapas, ikan sapu-sapu bisa hidup santai di air yang kadar oksigennya hampir nol dan penuh polusi logam berat.

Ikas sapu-sapu termasuk dalam kategori Invasive Alien Species (IAS) karena memiliki alat bantu pernapasan tambahan berupa labirin yang memungkinkan mereka bertahan di lumpur hitam pekat yang biasanya cuma dihuni ban bekas dan sampah plastik.

Kerusakan yang mereka timbulkan bukan sekadar soal perebutan wilayah, melainkan sudah masuk ke ranah perusakan infrastruktur alami sungai. Ikan ini punya tabiat membuat lubang-lubang sarang di tebing sungai yang jika dilakukan secara massal akan melemahkan struktur tanah.

Fenomena ini sering menjadi ancaman mekanis yang mempercepat erosi dan pendangkalan sungai. Akibatnya, sungai kita bukan cuma kehilangan keanekaragaman hayati karena telur-telur ikan lokal habis dilalap oleh mereka, tapi juga kehilangan kestabilan bantarannya.

Ironisnya, ledakan populasi ini adalah buah dari kedermawanan yang salah kaprah dari para pemilik akuarium yang melepas mereka ke alam bebas. Padahal, tindakan sembrono ini merupakan pelanggaran etika lingkungan yang serius dan secara hukum telah diantisipasi melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 19 Tahun 2020 yang melarang peredaran jenis ikan merugikan.

Tanpa adanya predator alami yang sanggup menembus kulit keras mereka yang bak lapisan baja, ikan sapu-sapu akan terus merajai arus bawah sungai kita, mengubah ekosistem yang seharusnya berwarna menjadi monokrom dan dipenuhi oleh satu jenis "penjajah" yang bahkan tidak aman untuk kita konsumsi.

 

(Sas/SelintasMedia)