Ketika Pelecehan Seksual Jadi Menu Harian dan Pembunuhan Jadi Final
Selintas Media- Tiap kali
baca berita, isinya kalau nggak pelecehan, ya pembunuhan bermotif asmara yang
gagal atau obsesi yang nggak kesampaian. Kita ini tinggal di Indonesia atau di
set film Criminal Minds sih sebenarnya?
Pelecehan seksual sekarang
bukan lagi sekadar catcalling di gang
sempit. Ia sudah berevolusi jadi monster yang kalau ditolak sedikit, nyawa
taruhannya. Tragis? Jelas. Aneh? Banget. Kenapa? Karena seringkali pelakunya
merasa punya hak atas tubuh orang lain hanya karena merasa sudah kenal, sudah
sayang, atau merasa lebih berkuasa.
Kenapa Bisa Sampai Se-Horor
Ini?
1.
Logika “Itu Miliku”: Banyak orang gagal
paham kalau manusia itu subjek, bukan aset. Begitu ada penolakan, egonya
terluka. Karena nggak punya kemampuan mengelola emosi selain marah, jalan
pintasnya ya kekerasan.
2.
Kurangnya Literasi Persetujuan: Di sini,
kata nggak sering dianggap sebagai jual mahal atau malu-malu kucing. Padahal,
nggak ya artinya enggak. Titik. Tanpa koma, apalagi tanda tanya.
3.
Hukum yang Kadang
Masih Lucu: Meski sudah ada UU TPKS, implementasinya di lapangan
kadang masih bikin kita pengin tepuk jidat berjamaah.
Gimana Caranya Biar Nggak
Terjebak Seks Bebas dan Tetap Waras?
Nah, bicara soal
menghindari seks bebas di tengah gempuran zaman sekarang itu memang menantang.
Tapi bukan berarti kita harus jadi pertapa di puncak gunung. Kuncinya ada di prinsip, bukan cuma sekadar takut
dosa, walau itu salah satu alasannya.
·
Standart Tinggi: Jangan mau jadi orang yang
murah hati dan murah harga diri. Seks itu sakral dan punya konsekuensi
(biologis, hukum, mental). Kalau kamu menganggap tubuhmu itu limited edition,
kamu nggak akan sembarangan membiarkan orang lain punya akses tanpa komitmen
yang jelas (alias surat nikah).
·
Filter Lingkungan, Bukan Cuma Filter Sosmed:
Kalau tongkronganmu tiap hari bahasanya nyari mangsa, lama-lama moralmu bakal
luntur juga kayak kaos loakan. Cari teman yang kalau kumpul bahasnya cara cari
cuan atau cara menang main Mobile Legends, bukan cara menaklukkan lawan
jenis di ranjang.
·
Orang Jawa Mengatakan “Penak e Ming Sakmono”:
Artinya seks bebas itu kayak makan mie instan mentah: kelihatannya enak dan
praktis, tapi perut bakal sakit belakangan. Ada risiko penyakit, kehamilan di
luar rencana, sampai beban mental yang nggak bisa hilang cuma dengan minta
maaf.
·
Kontrol Diri: Kita ini manusia, punya akal
budi, bukan kucing yang kalau musim kawin langsung sikat sana-sini. Kalau
merasa dorongan lagi tinggi, larikan ke hobi yang positif. Olahraga sampai
capek, baca buku sampai pusing, atau kerjakan tugas kantor yang menumpuk itu.
Percayalah, produktivitas adalah kontrasepsi alami yang paling ampuh buat
pikiran kotor.
Pelecehan dan kekerasan itu
biadab, dan seks bebas itu pilihan yang berisiko tinggi. Kita nggak bisa
mengontrol semua orang jahat di luar sana, tapi kita punya kendali penuh atas
prinsip dan keselamatan diri kita sendiri. Tetap waspada, tetap berprinsip, dan
jangan lupa: kalau si dia sudah mulai maksa-maksa, itu bukan cinta, itu peringatan
sebesar spanduk partai, dengan janji manis. Lari!
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation