Madiun, Bukan Sekadar Kota Pecel, tapi Ibu Kota Para Pendekar yang Selow tapi Mematikan
Selintas Media — Kalau kamu mampir ke Madiun, jangan cuma
sibuk nyari pecel atau borong brem buat oleh-oleh mertua. Coba agak peka
sedikit sama hawa-hawanya. Di sini, kalau kamu salah lirik atau sok jagoan di
lampu merah, risiko ketemu "pendekar"
itu lebih tinggi daripada peluang dapet diskon di mal.
Madiun bukan sekadar kota di Jawa Timur; dia adalah Gotham City-nya
para pesilat, tapi versi kearifan lokal. Dijuluki sebagai Madiun Kota Pendekar oleh pemerintah
daerah, kota ini menjadi rahim sekaligus markas besar bagi berbagai perguruan
pencak silat legendaris. Kebanggaan ini makin lengkap karena Pencak Silat telah
resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak 2019,
sebuah pengakuan dunia yang menempatkan Madiun sebagai salah satu titik
episentrum pelestariannya.
Berikut adalah daftar perguruan yang bikin Madiun punya
"karisma" yang beda dari kota lain:
1. PSHT (Persaudaraan Setia
Hati Terate)
Merujuk pada sejarah resmi di shterate.or.id, PSHT
didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo tahun 1922. Organisasi ini telah
bertransformasi menjadi institusi massal dengan anggota mencapai 7 juta
orang—bayangkan, penduduk satu negara Singapura saja kalah banyak. PSHT punya sejarah
heroik; pendirinya bahkan digelari Pahlawan Perintis Kemerdekaan karena
silatnya dipakai buat melawan Belanda. Kalau lihat logo bunga terate, itu
tandanya kamu sedang melihat kekuatan yang sudah melanglang buana sampai Rusia
dan Belanda.
2. PSHW (Persaudaraan Setia
Hati Winongo Tunas Muda)
Jika banyak perguruan memilih untuk melakukan ekspansi besar-besaran,
PSHW atau SH Winongo justru memilih jalan yang lebih segmented.
Berdasarkan catatan di setiahatiwinongo.id, mereka memilih
mengonsentrasikan seluruh kegiatan pelatihan dan administrasinya berpusat di
Winongo, Madiun. Langkah ini diambil untuk menjaga kemurnian ajaran Setia Hati
warisan Ki Ngabehi Surodiwirjo. Fokus pada pelestarian tradisi ini justru
melahirkan aura eksklusif yang membuat perguruan ini sangat disegani di kancah
persilatan nasional.
3. IKSPI Kera Sakti
Nah, kalau yang satu ini unik. Didirikan oleh R. Totong Kiemdarto pada
tahun 1980, sebagaimana dilansir dalam laman ikspikerasakti.com, IKSPI menggabungkan silat
Nusantara dengan teknik seni bela diri yang lincah. Namanya "Kera
Sakti" bukan tanpa alasan, gerakannya akrobatis dan sulit ditebak. Kalau
kamu sering lihat orang pakai sabuk hitam, kuning, atau merah dengan logo kera,
jangan sekali-kali diajak duel.
4. PSHTT (Persaudaraan Setia
Hati Tuhu Tekad)
Masih dari silsilah "Setia Hati", perguruan yang diprakarsai
Raden Singgih tahun 1918 ini memegang teguh prinsip Suro Diro Joyoningrat
Lebur Dening Pangastuti. Intinya, segala angkara murka bakal kalah sama
kelembutan dan doa. Jadi, pendekar di sini diajarkan untuk tidak asal sikat,
tapi lebih ke arah olah batin dan kebijaksanaan.
5. Perguruan Ki Ageng Pandan
Alas
Berlokasi di Desa Kare, perguruan ini didirikan oleh Bapak Koestari A.A
tahun 1962. Menariknya, mereka tidak menonjolkan istilah "Pendekar"
karena fokus utamanya adalah pertahanan diri dalam kondisi darurat. Mereka
adalah penjaga budaya yang rendah hati; silat buat jaga diri, bukan buat pamer
otot di media sosial.
6. IKS Pro Patria
Ini bukti kalau Madiun itu inklusif. Didirikan oleh Victor Lie Kuang
Hwa (Koh Hwa) tahun 1971, Pro Patria membawa semangat cinta tanah air. Nama
"Pro Patria" sendiri mengandung arti "Untuk Ibu Pertiwi".
Perguruan ini menjadi jembatan bahwa bela diri adalah milik siapa saja yang
punya hati untuk Indonesia, tanpa memandang etnis.
7. Pagar Nusa, Tapak Suci, dan
Kawan-kawan
Selain "enam besar" di atas, Madiun juga menjadi rumah yang subur
bagi Pagar Nusa, Tapak Suci, hingga Merpati Putih yang dikenal jago urusan
tenaga dalam. Semuanya bernaung di bawah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
Madiun adalah bukti bahwa pencak silat bukan sekadar gerak
pukul-tendang. Di balik setiap kuda-kuda, ada filosofi, sejarah perlawanan
terhadap penjajah, dan persaudaraan yang kental. Jadi, kalau ke Madiun,
tetaplah sopan. Siapa tahu bapak-bapak yang lagi ngopi di sebelahmu itu
ternyata bisa mematahkan beton cuma pakai dua jari. Salam hormat untuk para
pendekar!
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation