Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Madiun, Bukan Sekadar Kota Pecel, tapi Ibu Kota Para Pendekar yang Selow tapi Mematikan


 Kejuaran Pencak Silat Bupati Cup Madiun 2023.(Dok. Antara News)

Selintas Media — Kalau kamu mampir ke Madiun, jangan cuma sibuk nyari pecel atau borong brem buat oleh-oleh mertua. Coba agak peka sedikit sama hawa-hawanya. Di sini, kalau kamu salah lirik atau sok jagoan di lampu merah, risiko ketemu "pendekar" itu lebih tinggi daripada peluang dapet diskon di mal.

Madiun bukan sekadar kota di Jawa Timur; dia adalah Gotham City-nya para pesilat, tapi versi kearifan lokal. Dijuluki sebagai Madiun Kota Pendekar oleh pemerintah daerah, kota ini menjadi rahim sekaligus markas besar bagi berbagai perguruan pencak silat legendaris. Kebanggaan ini makin lengkap karena Pencak Silat telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO sejak 2019, sebuah pengakuan dunia yang menempatkan Madiun sebagai salah satu titik episentrum pelestariannya.

Berikut adalah daftar perguruan yang bikin Madiun punya "karisma" yang beda dari kota lain:

1. PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate)

Merujuk pada sejarah resmi di shterate.or.id, PSHT didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo tahun 1922. Organisasi ini telah bertransformasi menjadi institusi massal dengan anggota mencapai 7 juta orang—bayangkan, penduduk satu negara Singapura saja kalah banyak. PSHT punya sejarah heroik; pendirinya bahkan digelari Pahlawan Perintis Kemerdekaan karena silatnya dipakai buat melawan Belanda. Kalau lihat logo bunga terate, itu tandanya kamu sedang melihat kekuatan yang sudah melanglang buana sampai Rusia dan Belanda.

2. PSHW (Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda)

Jika banyak perguruan memilih untuk melakukan ekspansi besar-besaran, PSHW atau SH Winongo justru memilih jalan yang lebih segmented. Berdasarkan catatan di setiahatiwinongo.id, mereka memilih mengonsentrasikan seluruh kegiatan pelatihan dan administrasinya berpusat di Winongo, Madiun. Langkah ini diambil untuk menjaga kemurnian ajaran Setia Hati warisan Ki Ngabehi Surodiwirjo. Fokus pada pelestarian tradisi ini justru melahirkan aura eksklusif yang membuat perguruan ini sangat disegani di kancah persilatan nasional.

3. IKSPI Kera Sakti

Nah, kalau yang satu ini unik. Didirikan oleh R. Totong Kiemdarto pada tahun 1980, sebagaimana dilansir dalam laman ikspikerasakti.com, IKSPI menggabungkan silat Nusantara dengan teknik seni bela diri yang lincah. Namanya "Kera Sakti" bukan tanpa alasan, gerakannya akrobatis dan sulit ditebak. Kalau kamu sering lihat orang pakai sabuk hitam, kuning, atau merah dengan logo kera, jangan sekali-kali diajak duel.

4. PSHTT (Persaudaraan Setia Hati Tuhu Tekad)

Masih dari silsilah "Setia Hati", perguruan yang diprakarsai Raden Singgih tahun 1918 ini memegang teguh prinsip Suro Diro Joyoningrat Lebur Dening Pangastuti. Intinya, segala angkara murka bakal kalah sama kelembutan dan doa. Jadi, pendekar di sini diajarkan untuk tidak asal sikat, tapi lebih ke arah olah batin dan kebijaksanaan.

5. Perguruan Ki Ageng Pandan Alas

Berlokasi di Desa Kare, perguruan ini didirikan oleh Bapak Koestari A.A tahun 1962. Menariknya, mereka tidak menonjolkan istilah "Pendekar" karena fokus utamanya adalah pertahanan diri dalam kondisi darurat. Mereka adalah penjaga budaya yang rendah hati; silat buat jaga diri, bukan buat pamer otot di media sosial.

6. IKS Pro Patria

Ini bukti kalau Madiun itu inklusif. Didirikan oleh Victor Lie Kuang Hwa (Koh Hwa) tahun 1971, Pro Patria membawa semangat cinta tanah air. Nama "Pro Patria" sendiri mengandung arti "Untuk Ibu Pertiwi". Perguruan ini menjadi jembatan bahwa bela diri adalah milik siapa saja yang punya hati untuk Indonesia, tanpa memandang etnis.

7. Pagar Nusa, Tapak Suci, dan Kawan-kawan

Selain "enam besar" di atas, Madiun juga menjadi rumah yang subur bagi Pagar Nusa, Tapak Suci, hingga Merpati Putih yang dikenal jago urusan tenaga dalam. Semuanya bernaung di bawah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Madiun adalah bukti bahwa pencak silat bukan sekadar gerak pukul-tendang. Di balik setiap kuda-kuda, ada filosofi, sejarah perlawanan terhadap penjajah, dan persaudaraan yang kental. Jadi, kalau ke Madiun, tetaplah sopan. Siapa tahu bapak-bapak yang lagi ngopi di sebelahmu itu ternyata bisa mematahkan beton cuma pakai dua jari. Salam hormat untuk para pendekar!

 

(Sas/SelintasMedia)