Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Pasar Hewan: Self Reward Sesungguhnya Bagi Bapak-Bapak

Suasana Pasar Hewan Kawedanan Magetan dengan Rojokoyo (Sapi) Bibit Berjejer- (Dok. Warga Sekitar)

Selintas Media- Bagi anak muda, puncak dari segala hiburan mungkin adalah nongkrong di Caffe, nonton di bioskop, maupun di Mall. api bagi kasta yang lebih senior, alias bapak-bapak kita, gemerlap lampu kota dan gerai kopi waralaba internasional itu tidak ada harganya dibanding keriuhan hari pasaran di Pasar Hewan.

Kalau mall di tengah kota menawarkan AC sentral dan aroma popcorn, pasar hewan menawarkan aroma yang lebih "organik": perpaduan bau kotoran sapi, keringat belantik, dan asap rokok kretek yang tak pernah putus. Inilah mall yang sesungguhnya.

Kalau di mall kita melihat manekin memakai baju merk ternama, di pasar hewan kita akan menemukan deretan alat pertanian yang dipajang layaknya koleksi terbaru dari desainer kondang. Bagi bapak-bapak, memilih arit atau cangkul bukan sekadar urusan alat kerja. Ini soal fashion dan martabat.

Mereka bisa jongkok berjam-jam hanya untuk mengecek sepuhan besi sebuah arit. Caranya pun puitis: besi itu disentil, lalu suaranya didengarkan. Jika bunyinya nyaring, berarti arit itu lulus sensor untuk menemani mereka berburu rumput di pinggir sawah. Inilah toko aksesoris paling jujur yang pernah ada.

Mari kita bicara soal unit yang dipajang. Di pasar hewan, sapi Limousin atau Simmental adalah "supercar"-nya. Seorang bapak yang menuntun sapi dengan paha berotot dan punuk yang gagah akan berjalan dengan kepala tegak, seolah-olah ia baru saja turun dari mobil mewah keluaran terbaru.

Ragam Jenis Rojokoyo Tengah Ditawarkan Kepada Pembeli- (Dok. Warga)

Bahkan, ada prosedur "test drive" yang unik. Sapi dilihat giginya (untuk cek usia), dielus punggungnya, hingga dilihat cara jalannya. Bedanya, di sini tidak ada sales promotion girl (SPG) yang menjelaskan spesifikasi mesin. Yang ada hanyalah bapak-bapak yang menjadi saksi kunci sekaligus perantara atau belantik.

Jika mall punya food court dengan harga yang sering kali tidak masuk akal, pasar hewan punya warung tenda di pojokan dengan menu yang lebih masuk akal bagi perut petani: Nasi Pecel Madiun dengan lauk tempe menjes yang masih hangat.

Di sinilah pusat informasi (atau gosip) daerah berputar. Sambil menyeruput kopi hitam yang kentalnya melebihi oli motor, mereka membahas segala hal. Mulai dari harga pupuk yang mulai langka, prediksi cuaca, hingga analisis mendalam kenapa sapi milik tetangga sebelah bisa terjual lebih mahal padahal badannya lebih kurus.

Di meja warung ini, transaksi jutaan rupiah bisa selesai hanya dengan kata "deal" dan jabatan tangan yang erat. Tanpa materai, tanpa kontrak berlembar-lembar. Sebuah kepercayaan yang mungkin sudah punah di gedung-gedung tinggi Jakarta.

 Pada akhirnya, pasar hewan adalah bukti bahwa kebahagiaan bapak-bapak kita itu sangat membumi. Mereka tidak butuh kursi pijat elektrik di dalam mall. Cukup dengan jongkok di pinggir pasar, melihat lalu lalang sapi, dan bercengkerama dengan sesama pemilik ternak, stres setelah seminggu bekerja di sawah seolah luntur begitu saja.

Pasar hewan bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah pusat kebudayaan, tempat di mana ekonomi rakyat bergerak secara aktif dan mengalir apa adanya. Jadi, kalau akhir pekan ini bapakmu tiba-tiba menghilang sejak subuh, jangan dicari ke mall. Temuilah beliau di pasar hewan terdekat. Ia sedang "healing" di mall yang sesungguhnya.

 

 

(Sas/SelintasMedia)