Rawan Kekerasan, Rumah Harus Jadi Markas Paling Aman Buat Sang Buah Hati
Seorang Anak Mengeluarkan Air Mata- (Dok. Website/dp3appkb.bantulkab.go.id)
Selintas
Media- Mari kita merenung sejenak, akhir-akhir ini tengah mengalami kondisi
yang tidak baik-baik saja, khususnya buat sang buah hati kita. Kabar tentang
meningkatnya kasus kekerasan itu ibarat alarm pagi yang berisik banget, tapi
alih-alih kita matikan, mending kita pakai buat bangun dan berbenah.
Bukannya
mau nakut-nakutin, tapi melindungi anak itu nggak cukup cuma dengan doa dan
dikasih makan enak. Ada senjata bernama pola asuh yang harus kita asah biar
anak punya tameng tak kasat mata.
Dulu,
anak harus patuh kepada orang tua. Lihat zaman sekarang, kalau anak terlalu
takut sama orang tuanya, dia justru bakal jadi sasaran empuk predator di luar
sana. Kenapa? Karena ketika dia mengalami hal nggak menyenangkan, dia takut
lapor ke kita. Dia takut malah disalahkan atau dimarahi.
Tugas
kita sekarang adalah jadi Teman. Anak harus merasa kalau rumah adalah tempat di
mana dia bisa cerita apa saja, dari soal nilai matematika yang jeblok sampai
soal orang asing yang berani pegang-pegang pundaknya tanpa izin. Kalau anak
sudah merasa kita adalah bestie paling terpercaya, separuh nyawa mereka sudah
terselamatkan.
Anak-anak
harus tahu kalau tubuh mereka adalah milik mereka sendiri, bukan milik paman,
guru, atau tetangga yang baik hati sekalipun.
Ajarkan
mereka bagian tubuh mana yang sifatnya privat. Jangan biasakan menyuruh anak
mencium atau memeluk orang lain kalau si anak memang lagi nggak mau, hanya demi
alasan sopan santun. Kita harus hargai perasaan mereka. Kalau dari kecil mereka
sudah diajarkan cara bilang nggak atau jangan untuk sentuhan yang bikin nggak
nyaman, mereka bakal bawa keberanian itu sampai luar rumah.
Kita
sering khawatir anak diculik di pasar, tapi lupa kalau penculikan mental bisa
terjadi di kamar tidur lewat smartphone. Kekerasan sekarang nggak cuma
fisik, tapi juga verbal dan seksual lewat dunia maya.
Parenting
zaman sekarang itu berat, karena kita juga harus jadi polisi siber buat anak
sendiri. Bukan dengan cara merampas HP-nya, tapi dengan mengedukasi mereka
tentang bahaya orang asing di internet yang sok asik. Ingat, predator itu jago
banget akting jadi teman sebaya di kolom chat.
Pada
akhirnya, berita tentang kekerasan anak itu harusnya bikin kita makin kepo sama
kondisi psikis anak sendiri. Jangan sampai kita terlalu sibuk cari uang buat
masa depan mereka, tapi lupa menjaga mereka di masa sekarang.
Mari
kita sepakati satu hal, perlindungan terbaik bagi anak bukan terletak pada
seberapa tinggi pagar rumah kita, tapi pada seberapa kuat ikatan kepercayaan
antara orang tua dan anak. Dengan begitu, mau dunia di luar sana seberisik apa
pun, anak kita tahu ke mana harus pulang untuk berlindung.
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation