Sego Jotos! Simbol Peka Kuliner Tak Lekang Oleh Jaman
Selintas
Media- Bagi masyarakat luar Madiun, mendengar kata "Jotos" mungkin yang terbayang adalah bogem mentah atau
aksi tawuran antar-pendekar. Tapi bagi orang Madiun dan sekitarnya, jotos
adalah manifestasi kasih sayang yang dipadatkan dalam sebungkus nasi seukuran
kepalan tangan orang dewasa. Sego jotos bukan sekadar jawaban atas lapar di
tengah malam, melainkan sebuah ekosistem yang tersimpan di balik balutan kertas
minyak dan karet gelang.
Kalau
kita bedah secara mendalam, isi di dalam bungkusan itu sebenarnya adalah
rupa-rupa filosofi hidup yang sangat berbobot. Kehadiran tempe dan tahu goreng
misalnya, adalah duo dinamis yang melambangkan kesetaraan. Tahu yang lembut dan
tempe yang bertekstur adalah pengingat bahwa dalam hidup kita harus fleksibel,
terkadang harus selembut tahu menghadapi kenyataan, tapi tetap padat berisi
seperti tempe dalam memegang prinsip.
Belum
lagi kehadiran kering tempe yang diiris kecil-kecil dengan balutan kecap dan
sambal. Ini adalah wujud nyata dari seni merayakan hal-hal kecil. Ia adalah
pengingat bagi kita yang sering mengeluh, bahwa kesuksesan besar itu dibangun
dari potongan-potongan kecil kerja keras yang dikumpulkan jadi satu. Rasanya
yang manis-gurih adalah representasi dinamika hidup yang mengharuskan kita mau "diiris-iris" alias berjuang
terlebih dahulu sebelum mencicipi manisnya hasil.
Lalu
ada mie goreng dan potongan telur goreng yang berfungsi sebagai pelengkap yang
tak boleh absen. Mie dengan bentuknya yang panjang melambangkan harapan akan
rezeki yang tidak terputus, sedangkan potongan telur goreng, meski kadang hanya
seperdelapan bagian, adalah bentuk apresiasi diri agar kita tetap merasa mewah
dalam keterbatasan.
Semua
itu kemudian disatukan oleh sang penentu kedaulatan, yaitu sambal tomat. Tanpa
sambal ini, sego jotos hanyalah sekumpulan nasi rames yang kehilangan jati
diri. Sambal tomat adalah penyeimbang yang tidak sekejam sambal bawang, memberikan
rasa optimisme bahwa setelah pedasnya cobaan, selalu ada kesegaran yang
menanti.
Dinamakan
sego jotos memang karena ukurannya yang pas di genggaman, namun efeknya setelah
makan seringkali membuat kita terdiam kenyang dan mendadak lupa pada hutang.
Ini adalah kuliner paling jujur di tanah plat AE. Kita tidak butuh piring
cantik atau sendok perak untuk menikmati hidup. Cukup duduk di trotoar atau
pinggir jalan, buka bungkusnya, dan rayakanlah kehidupan dengan kehidupan
sederhana tenang lewat sebungkus nasi yang namanya sangar tapi isinya sangat
pengertian ini!
(Sas/SelintasMedia)


Join the conversation