Syarat Menuju Sembuh? Melawan Logika Dukun yang Lebih Tertarik pada Syahwat ketimbang Syafaat
Selinta Media- Baru-baru ini, di publik wilayah Magetan dan sekitarnya kembali
digegerkan oleh drama kolosal berbalut klenik. Modusnya klise namun tetap sakti
mandraguna: seorang oknum "orang
pintar" menjanjikan kesembuhan bagi suami pasien, namun justru sang
istri yang menjadi sasaran empuk ritual "penyatuan
energi". Kasus ini menambah panjang daftar malapraktik spiritual di
mana kehormatan perempuan sering kali dijadikan tumbal di atas altar tipu daya.
Fenomena dukun cabul ini memang tipe isu yang selalu berhasil membuat
darah tinggi sekaligus mengelus dada. Di tengah masyarakat yang masih
menempatkan mistisisme sebagai jalur pintas solusi hidup, oknum-oknum ini
muncul bak pahlawan kesiangan.
Mereka tidak hanya menjual harapan, tetapi juga mengeksploitasi
kerapuhan psikologis korban. Apalagi jika si pasien kebetulan memiliki paras
yang menawan; mendadak saja kurikulum ritualnya menjadi sangat panjang, rumit,
dan tentu saja, mengharuskan kontak fisik yang sangat intens.
Agar kita tidak terus-terusan menjadi korban "spiritualitas
ugal-ugalan", mari kita bedah ciri-ciri dukun yang niatnya murni pengin
menyetubuhi daripada menyembuhkan:
1.
Ritual
Berbasis Gender yang Spesifik
Waspadalah jika si dukun memberikan syarat
yang tidak masuk akal secara medis maupun logika ketuhanan. Misalnya,
kesembuhan suami diklaim bergantung pada "mandi
kembang" sang istri di ruangan tertutup pada jam-jam rawan. Sejak
kapan kesembuhan seseorang memiliki korelasi langsung dengan aktivitas buka
baju pihak ketiga? Ini bukan transfer energi, melainkan murni transfer birahi
yang dibungkus istilah langit.
2.
Fokus
pada Estetika, Bukan Penyakit
Dukun yang benar-benar berniat menolong
harusnya fokus pada titik sakit atau gangguan gaib yang dikeluhkan. Namun,
dukun "lapar" memiliki mata
yang lebih liar dari detektif swasta. Jika ia mulai terlalu rajin memuji paras
pasien atau menyebut bahwa "aura
cantikmu tertutup jin", itu adalah sinyal merah. Klaim
"pembersihan aura" sering kali hanyalah pintu masuk untuk melancarkan
aksi pelecehan dengan dalih sentuhan suci.
3.
Ruang
Ritual yang Mengalahkan Kerahasiaan Negara
Kecurigaan harus memuncak jika si dukun
bersikeras melakukan ritual di tempat yang tertutup rapat, tanpa saksi, bahkan
melarang suami atau keluarga untuk mendampingi. Alibinya klasik: "agar konsentrasi tidak pecah".
Padahal, ruang gelap tanpa saksi adalah laboratorium paling aman bagi mereka
untuk memanipulasi korban yang sedang dalam kondisi kalut dan pasrah.
4.
Doktrin
"Benih" Kehidupan
Ini adalah level penipuan yang paling
menjijikkan. Beberapa oknum nekat mendoktrin pasien bahwa untuk membuang sial
atau memindahkan penyakit, mereka harus menerima "sari" atau melakukan persetubuhan sebagai syarat mutlak.
Ini bukan lagi urusan klenik, melainkan tindak asusila murni yang memanfaatkan
tameng spiritualitas agar korban tidak merasa berdosa saat diperdaya.
Mencari kesembuhan adalah ikhtiar yang mulia, namun jangan sampai nalar
kita ikut terjerumus saat bertemu orang yang mengaku pintar. Agama maupun
tradisi yang waras tidak pernah mengajarkan ritual penyembuhan yang
mengharuskan seseorang menyerahkan harga dirinya.
Jika seorang praktisi spiritual sudah mulai meminta sesuatu yang
melanggar norma dan logika, apalagi sudah urusan buka-bukaan, segera angkat
kaki. Lebih baik dianggap tidak sopan karena menolak ritual, daripada kehilangan
kehormatan akibat ulah oknum yang sebenarnya tidak pintar, tapi cuma kurang
diajar. Ingat, kesembuhan itu datangnya dari Yang Maha Kuasa, bukan dari balik
selimut dukun yang haus takhta dan syahwat.
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation