Cerita Mojokerto: Antara Skincare Istri atau Deposit Suami?
Selintas Media- Dunia ini
memang panggung sandiwara, tapi bagi Satuan (40), panggung itu adalah aspal
panas antara Mojosari hingga Surabaya. Dengan kostum badut yang gerah dan anak
kecil di gendongan, ia mencari uang demi sebuah tuntutan yang kedengarannya
sepele tapi mematikan: uang riasan istri.
Namun, Rabu (6/5), kemarin
di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Puri, topeng senyum si badut itu
luruh. Tragedi berdarah pecah. Mertuanya, Siti Arofah (52), tewas, dan
istrinya, Sri Wahyuni (35), kritis. Saat di Polres Mojokerto, sebuah narasi
besar mulai digulirkan, dan seperti biasa, kebenaran selalu punya dua muka yang
saling melotot.
Kalau kita menyimak
pengakuan Satuan di depan polisi, kita seperti sedang membaca naskah drama
melankolis. Satuan memosisikan diri sebagai suami paling ngalah sedunia.
Ia mengklaim terpaksa membawa anaknya yang masih balita ikut "ngamen" jadi badut karena
sang istri ogah mengasuh jika uang belanja dan biaya dandan tidak cair.
"Istri mau momong
kalau semua dipenuhi. Uang belanja, sekolah, sampai uang riasan," katanya
dengan suara bergetar.
Bagi Satuan, keringat yang
mengucur di balik kostum badutnya dikhianati oleh kehadiran orang ketiga yang
dianggap sang istri lebih "berduit".
Ia merasa sudah cukup sabar mengikuti alur perselingkuhan itu, sampai
akhirnya rasa capek fisik dan batin meledak menjadi tindakan brutal yang tak
terkendali. Di sini, Satuan adalah korban dari dinginnya hati seorang wanita
yang lebih cinta bedak daripada kesetiaan.
Namun, narasi "suami idaman yang teraniaya"
itu langsung ditabrak oleh kesaksian dari pihak keluarga korban. Di sinilah
bumbu-bumbu ala KKN di Desa Penari muncul: beda sudut pandang, beda
cerita. Keluarga korban menepis kalau Satuan adalah pahlawan ekonomi.
Ada variabel lain yang
muncul ke permukaan: Judi Online.
Kabar dari pihak keluarga menyebutkan bahwa pendapatan dari hasil jadi badut
seringkali tak sampai ke dapur rumah, melainkan mampir ke saldo deposit slot.
Hal inilah yang memicu kemceng-kemcengan alias pertengkaran hebat yang
rutin terjadi.
Bagi keluarga korban,
narasi "uang riasan" hanyalah
pembelaan diri. Masalah utamanya adalah dompet yang selalu kering karena
hobinya "memutar slot",
yang kemudian memicu emosi temperamental Satuan hingga tega menghabisi
mertuanya sendiri.
Sekarang kita dihadapkan
pada dua kenyataan yang saling menjegal. Apakah ini kisah tentang seorang suami
yang hancur karena tuntutan gaya hidup istrinya yang selangit? Ataukah ini
cerita tentang seorang pria yang kehilangan akal sehat karena kecanduan judi,
lalu menjual kesedihan lewat narasi "bawa
anak saat kerja" sebagai tameng moral?
Apapun versinya, satu nyawa
melayang dan satu lainnya bertaruh nyawa di RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo.
Satuan kini tak lagi bisa bersembunyi di balik kostum badut yang lucu. Ia harus
menghadapi kenyataan bahwa sandiwara hidupnya berakhir dengan cara yang paling
tidak lucu: ancaman pidana berat di meja hijau.
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation