Merayakan Hari Buku Nasional, Madiun Book Party Luncurkan Program "Dialogika" untuk Bangun Ruang Diskusi Anak Muda
Selintas Media- Memperingati Hari Buku
Nasional (Harbuknas) yang jatuh pada tanggal 17 Mei, komunitas literasi Madiun
Book Party meluncurkan program baru bertajuk "Dialogika" (Dialog
Berlogika). Acara yang dikemas dalam bentuk talkshow edukatif dan forum
diskusi interaktif ini digelar secara kolektif bertepatan dengan aksi serentak
Indonesia Book Party di sekitar 100 titik di seluruh Indonesia pada Minggu
(17/5), kemarin.
Peluncuran
program baru ini bertujuan untuk memfasilitasi anak muda di wilayah Kota dan
Kabupaten Madiun agar tidak hanya aktif membaca, tetapi juga mampu menuangkan
gagasan serta berpendapat secara logis di ruang publik.
Community
Coordinator Madiun Book Party, Dede Alien Efansyah,
menjelaskan bahwa kehadiran "Dialogika" merupakan bentuk pengembangan
dari agenda rutin komunitas. Jika biasanya mereka hanya berfokus pada kegiatan
membaca senyap (silent reading), kini mereka membuka ruang dialektika
yang lebih mendalam.
"Kami
ingin menciptakan wadah di mana para bookmates (anggota) dan masyarakat
umum bisa saling bertukar pikiran, menyalurkan aspirasi, dan mendiskusikan
berbagai isu secara rasional," ujar Dede saat ditemui di lokasi kegiatan,
Minggu (17/5), kemarin.
Dalam
edisi perdana ini, "Dialogika" menghadirkan dua narasumber dengan
latar belakang keilmuan yang berbeda. Pemateri pertama, Anrico Alamsyah,
seorang penulis lokal, membagikan pengalamannya mengenai dinamika industri
kepenulisan serta korelasi antara karya sastra dengan realitas sosial
kemasyarakatan di Madiun. Sementara pemateri kedua, Devia, praktisi di bidang
psikologi, mengupas isu kesehatan mental (mental health) dan
keterkaitannya dengan peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Dedi
menambahkan, kegiatan talkshow seperti ini masuk dalam kategori Special
Event (Acara Khusus) komunitas. Pihaknya berencana mengagendakan program
"Dialogika" secara berkala setiap satu atau dua bulan sekali. Langkah
ini diambil agar tidak menggeser esensi dari kegiatan utama harian atau
mingguan mereka.
"Program
utama kami tetaplah Agenda Reguler yang diadakan setiap pekan, meliputi membaca
bersama, sesi berbagi (sharing session), dan dokumentasi. Acara khusus
seperti talkshow, workshop, maupun pelatihan karya tulis ilmiah
berfungsi sebagai variasi agar anggota mendapatkan perspektif keilmuan yang
baru," jelas mahasiswa semester akhir STAINU Madiun tersebut.
Gerakan
literasi ini bersifat inklusif dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat
tanpa syarat khusus. Peserta yang hadir mencakup berbagai profesi, mulai dari
pelajar, mahasiswa, guru, sastrawan, hingga tenaga medis. Rentang usia
sasarannya pun luas, bahkan komunitas ini kerap berkolaborasi dengan anak-anak
usia dini (TK) hingga tingkat sekolah menengah.
Madiun
Book Party sendiri memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya fokus menggarap
wilayah lokal Madiun. Pada awal pergerakannya di tahun 2024, inisiasi gerakan
ini sempat mencakup empat kabupaten di eks-Karesidenan Madiun (Madiun, Ngawi,
Ponorogo, dan Magetan). Seiring berjalannya waktu, wilayah lain telah berhasil
merilis komunitas mandiri secara resmi, sehingga fokus kerja tim Dedi kini
sepenuhnya berpusat di Kota dan Kabupaten Madiun.
Komunitas
yang resmi memulai agenda perdana mereka pada 15 Juni 2025 ini telah menyusun
peta jalan jangka panjang demi keberlanjutan gerakan. Salah satu target
terdekat yang sedang dipersiapkan adalah peluncuran Madiun Book Party
Library. Program ini dirancang sebagai sistem perpustakaan komunitas untuk
memfasilitasi sirkulasi peminjaman dan hibah buku antar-anggota, mengingat saat
ini mereka belum memiliki sekretariat fisik yang permanen.
(Sas/SelintasMedia)


.jpeg)
.jpeg)
Join the conversation