Ngopi “Ngobrol Pintar” Cara Menemukan Waras di Tengah Kehidupan yang Bergegas
Selintas Media-Bagi banyak anak muda, usia dua puluhan hingga awal tiga puluhan kerap terasa seperti persimpangan yang melelahkan. Mengejar karier, menabung untuk masa depan, hingga mencari makna hidup sering kali datang bersamaan. Fenomena ini dikenal dengan istilah Quarter Life Crisis (QLC) masa ketika seseorang merasa berlari tanpa tahu ke mana arah tujuannya.
Namun di tengah hiruk-pikuk kehidupan dan tekanan untuk terus produktif, Rahmad Agung Wicaksono, seorang praktisi muda yang aktif menyalurkan minatnya di dunia fotografi menemukan cara sederhana untuk tetap waras: Ngopi.
Bukan sekadar menikmati kopi di kafe kekinian, tapi Ngopi versinya berarti “Ngobrol Pintar” momen reflektif untuk berdamai dengan diri sendiri.
“Banyak orang sibuk, tapi jarang benar-benar hadir untuk dirinya sendiri. Dari situ saya sadar, saya butuh jeda. Butuh waktu untuk ngobrol, bukan dengan orang lain, tapi dengan diri sendiri,” ujar Rahmad, Rabu (29/10), kemarin.
Setiap sore, ia meluangkan waktu sekitar 15 menit untuk duduk tenang dan menuliskan hal-hal kecil yang patut disyukuri hari itu. Aktivitas itu ia sebut sebagai bentuk Ngopi Cerdas, menikmati waktu dengan makna, bukan sekadar pelarian.
“Kadang kita cuma perlu diam dan mendengarkan diri sendiri. Dari sana muncul kesadaran baru: ternyata hidup gak seburuk yang kita pikir,” ujarnya.
Kebiasaan sederhana ini menjadi “jangkar” di tengah gelombang Quarter Life Crisis yang kian sering terdengar, dari kecemasan finansial, burnout kerja, hingga kehilangan arah.
Menurut Rahmad, inti dari Ngopi adalah menghargai jeda. Bahwa istirahat bukan tanda menyerah, tapi bagian dari strategi bertahan.
“Kita gak harus selalu produktif. Kadang berhenti sebentar justru bikin langkah berikutnya lebih kuat,” tambahnya.
Fenomena kecil ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental tak selalu butuh terapi mahal. Kadang cukup dengan keberanian untuk berhenti sejenak, merenung, dan ngobrol pintar dengan diri sendiri.
“Ngopi bagi saya bukan soal kafe, tapi cara bertahan. Cara untuk tetap waras di dunia yang terlalu cepat,” tutup Dimas.
Kebiasaan sederhana dapat menjadi pengingat bahwa di tengah tuntutan hidup modern, setiap orang berhak punya cara sendiri untuk menata pikirannya. Tak melulu dengan liburan mewah, perayaan sederhana, percakapan jujur, dan keberanian untuk mengenal diri lebih dalam. (sas/selintasmedia)

.jpeg)
.jpeg)
Join the conversation