Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Jiwan Vibes yang Bikin Full Senyum: Refleksi Tiga Bulan Menemukan Hidden Gem di Madiun

Kedatangan, Vibe Check, dan Adaptasi Sat-Set

Halo
bestie semua! Tiga bulan, waktu yang sat-set banget, ya? Jujurly, aku sendiri masih enggak percaya. Tepat sejak tiga bulan yang lalu, aku resmi menutup bab lama dan memulai bab baru sebagai warga Jiwan, Madiun. Ini bukan sekadar pindah alamat dari Surabaya, tapi ini adalah new chapter in my life. Aku tahu, banyak dari kalian yang penasaran, bagaimana rasanya seorang wanita biasa sepertiku harus beradaptasi di lingkungan yang benar-benar berbeda dari hiruk pikuk kota besar. Jawaban singkatnya: pecah dan menyenangkan pol!
Awal-awal pindah, agak deg-degan sih. Wajar, karena Madiun dan khususnya Jiwan, hanyalah nama yang sering aku dengar, terutama terkait dengan Pecelnya yang legendaris. Bayanganku mungkin hanya akan ada sawah dan suasana yang sepi. Eh, ternyata, realitasnya jauh lebih menghangatkan hati dan inspiratif. Jiwan adalah juaranya dalam memberikan ketenangan.
Hari pertama menginjakkan kaki di Jiwan, vibe-nya langsung terasa berbeda. Udaranya segar banget, jauh dari polusi yang biasa aku hirup. Ada ketenangan yang enggak bisa didapatkan di tempat lain. Pagi-pagi, yang terdengar bukan klakson kendaraan yang rusuh, melainkan kicauan burung dan suara orang-orang yang mulai beraktivitas dengan santai. Itu adalah momen penyadaran bahwa aku telah membuat keputusan yang sangat tepat. Aku segera tahu, tempat ini akan menjadi rumah yang sesungguhnya.
Proses unpacking dan penataan rumah berjalan lancar berkat bantuan tetangga yang super humble. Mereka langsung menyambutku dengan senyum tulus dan bahkan membawa beberapa makanan ringan khas Madiun. Keramahan lokal ini benar-benar menjadi sistem support utama yang membuatku merasa homey seketika. Aku sadar, Jiwan bukan hanya menawarkan pemandangan alam yang aesthetic dan menawan, tetapi juga menawarkan komunitas yang sangat supportive dan toleran. Ini adalah fondasi yang membuat tiga bulan pertamaku terasa penuh senyum dan energi positif yang tiada henti. Aku berjanji, enggak akan ada lagi konten yang vibes-nya galau, karena Jiwan menghilangkan semua kegalauan itu. Vibe check Jiwan, lulus total!
 

Kuliner Jiwan

Tiga bulan di Jiwan bisa dibilang sebagai fase level-up bagi lidahku. Gimana enggak? Madiun adalah surganya kuliner otentik yang rasanya enggak ada tandingannya. Tentu saja, Pecel Madiun menjadi menu auto wajib. Aku enggak pernah bosan sarapan dengan nasi pecel yang bumbu kacangnya kental, pedasnya pas, dan selalu disajikan dengan aneka lauk yang menggoda iman. Aku bahkan sudah punya beberapa warung Pecel langganan yang rasanya best deal parah, dan aku enggak sabar untuk segera merilis guide Pecel Jiwan versi aku.
Namun, Jiwan punya lebih dari sekadar pecel. Aku aktif explore jajanan dan makanan random yang ditemukan di sudut-sudut desa. Aku menemukan nasi jotos yang porsinya pas dan pedasnya nampol, cocok untuk mengisi energi sebelum memulai pekerjaan rumah. Ada juga camilan pasar tradisional yang unik dan jarang kutemui di kota lain, seperti aneka kue basah yang harganya sangat bersahabat di kantong. Salah satu hidden gem kuliner yang paling aku suka adalah sebuah warung sate ayam kecil di pinggir jalan raya Jiwan yang bumbunya medok dan dagingnya empuk banget. Aku harus segera spill the tea soal semua spot kuliner ini. Pokoknya, siap-siap auto gemuk challenge ya!
Selain kuliner, aku juga mulai menyelami budaya lokal. Aku belajar cara menyapa tetangga dengan dialek setempat yang lembut dan santun. Aku mengamati kegiatan gotong royong yang masih kental di sini, mulai dari membersihkan lingkungan hingga acara adat yang memukau. Aku terkesan dengan kesederhanaan dan kebersamaan yang mereka tunjukkan. Ini adalah kekayaan budaya yang sangat otentik dan menarik untuk dijadikan materi konten edukasi. Aku merasa terhubung dengan akar budaya yang selama ini mungkin luput dari perhatianku. Lingkungan yang religius dan toleran juga membuatku merasa aman dan nyaman. Ini adalah lingkungan idaman untuk tumbuh dan berkembang. Jiwan benar-benar memberikan segalanya yang dibutuhkan untuk inspirasi hidup.
 

Peningkatan Produktivitas

Produktivitasku juga meningkat tajam di sini. Dulu, aku sering mengalami writer's block dan kebuntuan ide. Di Jiwan, dengan udara yang bersih dan suasana yang damai, ide konten mengalir deras tanpa hambatan. Aku menjadi lebih fokus saat menyusun naskah dan lebih bersemangat saat proses menulis. Jiwan telah menjadi kolaborator terbaik yang pernah aku miliki. Aku berencana untuk lebih banyak mengangkat potensi lokal Jiwan, termasuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan kesenian daerah, untuk memberikan exposure yang lebih luas. Aku ingin Jiwan dikenal sebagai tempat yang keren, asri, dan penuh inspirasi bagi anak muda lainnya. Aku yakin Madiun punya potensi global yang besar.
 

Bab 4: Refleksi, Komitmen, dan Pesan untuk Bestie (± 200 Kata)

Tiga bulan ini adalah sekolah kehidupan yang singkat namun penuh makna. Aku belajar arti kesederhanaan, pentingnya menghargai proses, dan kedamaian yang bisa didapatkan dari hal-hal kecil. Aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati seringkali terletak jauh dari kemewahan dan hiruk pikuk kota. Jiwan mengajarkanku untuk bersabar dan menikmati setiap momen. Aku berubah menjadi pribadi yang lebih tenang dan optimis tentang masa depan. Transformasi mental ini tak ternilai harganya.
Aku ingin mengeksplorasi lebih dalam sejarah dan cerita rakyat Jiwan untuk dibagikan kepada kalian.
Pesan terakhir untuk bestie di luar sana: Jangan pernah takut keluar dari zona nyaman. Pindah tempat bisa jadi jawaban atas kebuntuan hidup yang selama ini kamu rasakan. Aku berharap kalian juga bisa menemukan hidden gem kalian sendiri, di mana pun itu. Terima kasih sudah menjadi saksi dan pendukung setia perjalananku selama tiga bulan ini. Aku sayang kalian!