Kopi Lawu, Dari Perekap Acara Hingga Cerminan Jati Diri Manusia
Selintas Media- Bagi sebagian orang, kopi hanyalah minuman pendamping aktivitas. Namun, bagi Aprei Kurniawan, pemilik Java Lawu Kopi, Magetan, kopi adalah representasi utuh dari budaya, ekonomi, dan bahkan cerminan karakter manusia. Ia menegaskan, di Lereng Lawu, kopi telah melampaui tren, menjadi "budaya harian" dan jati diri yang tak terpisahkan dari masyarakat.
Pandangan mendalam ini muncul dari perjalanannya yang awalnya adalah pencinta teh, namun tergerak melihat potensi besar tanah kelahiran istrinya.
Dalam setiap hajatan, ritual, atau sekadar kumpul-kumpul santai, kopi hampir selalu hadir. Aprei yg sejatinya asli dari solo ini, menyebut peran kopi di tengah masyarakat Jawa adalah sebagai "perekap acara" atau "suatu bagian dari suatu budaya".
“Kopi itu sudah kayak seperti budaya saya. Sudah bagian dari suatu budaya, setiap ada acara, di pernikahan, atau ritual, atau mungkin kondangan lah, di situ pasti ada kopi sebagai perekap acara,” ujar Aprei, Minggu (2/11), kemarin.
Lebih dari itu, ia melihat kopi sebagai penanda identitas. Setiap daerah, baik Lawu, Gayo, Wilis, atau Arjuno, memiliki karakter rasa berbeda, yang mencerminkan faktor tanah, suhu, dan lingkungan, seperti jati diri yang tak bisa ditiru. Hal inilah yang membuat pelaku kopi sejati cenderung "tidak bersaing, malah kayak saling support."
Bagian paling filosofis dari kopi adalah proses penanaman dan pematangannya. Aprei menganalogikan proses budidaya kopi selama bertahun-tahun seperti merawat anak. “Ibaratnya, menjadi petani itu seperti merawat anak. Sejak awal kita memberi nutrisi, perhatian, dan kasih sayang, lalu terus merawat serta mengarahkannya hingga tumbuh dengan baik,” ujarnya.
Prosesnya butuh kesabaran: dimulai dari pemilihan biji petik merah yang bagus, disemai selama tiga bulan hingga tumbuh kecambah, dipindah ke polybag kecil selama setengah tahun, dan baru bisa panen perdana setelah 3 hingga 3,5 tahun.
Panen perdana ini disebut sebagai fase "tanaman belajar berbuah." Karakternya masih flat. Karakter rasa yang sesungguhnya (manis, fruity, atau rempah) baru akan terlihat di panen ketiga. Sama halnya seperti manusia, hasil treatment baik akan tercermin pada karakter akhir, baik pada biji kopi yang melimpah maupun pada akhlak anak yang baik.
Awal ketertarikan Aprei di dunia kopi didorong oleh potensi ekonomi di Lawu yang belum terangkat. Ia melihat fenomena aneh: kopi lokal murah, tetapi harga di kedai mahal. Ini disebabkan rantai distribusi yang panjang.
Kini, Lawu Kopi menjadi bagian dari gelombang kebangkitan kopi lokal yang dimotori "petani-petani milenial." Para petani muda ini bertindak sebagai processor yang langsung menjual hasil ke roaster atau user (pelaku kopi), memotong jalur tengkulak.
“Sekarang pencinta kopi langsung ke petani. Jadi dia udah tahu untuk membandingkan kopinya sama kopi daerah lain dengan sama pemrosesannya, treatment-nya sama,” jelas Aprei.
Langkah inovatif ini membuat harga kopi lebih stabil dan mendorong semangat petani, meskipun tantangan terbesar saat ini adalah memastikan petani tetap konsisten menjaga kualitas di tengah tingginya permintaan pasar.
Mengenal Karakter Kopi Lawu dan Amanah Lingkungan di Lereng Lawu, terdapat beragam varietas dengan karakter khas:
- Robusta: Karakteristik pahit yang "pahit enak," paling umum dibudidaya.
- Arabika: Cenderung fruity, asam, dan kadang memiliki aroma rempah (dipengaruhi lingkungan).
- Liberika & Excelsa: Dikenal sebagai kopi nangka karena memiliki aroma rasa nangka, tetapi cenderung pahit dan langka. Tanaman ini besar (tinggi hingga 5 meter) dan panennya sulit, sehingga jarang dibudidaya.
Amanah ini menegaskan bahwa keberlanjutan kualitas kopi sangat bergantung pada kelestarian hutan, air, dan dukungan nyata dari seluruh rantai industri terhadap kesejahteraan petani lokal. (sas/selintasmedia)


Join the conversation