Kirim tulisan dan dapatkan kesempatan tulisanmu dipublish Selintas Media. Klik disini

Juru Parkir, Ujian Kejujuran di Gerbang Wisata Madiun


Selintas Media- Upaya Pemerintah Kota Madiun membangun citra sebagai kota wisata terus digencarkan. Namun, video viral tarif parkir Rp10.000 di Jalan Jawa, Rabu (31/12), kemarin, menjadi pengingat bahwa wajah kota tidak hanya dibentuk oleh infrastruktur, melainkan juga oleh praktik pelayanan di lapangan.

Persoalan ini bukan sekadar soal nominal, melainkan menyangkut kepercayaan publik. Dalam pengalaman wisata, juru parkir kerap menjadi pihak pertama yang berinteraksi dengan pengunjung. Dari titik inilah kesan awal terbentuk, bahkan sebelum wisatawan menikmati kuliner, hiburan, atau fasilitas kota.

Ketika tarif disampaikan sesuai ketentuan, rasa aman muncul. Sebaliknya, tarif di luar aturan langsung menimbulkan kecurigaan. Pengalaman berwisata pun berubah menjadi pengalaman berjaga. Wisatawan boleh saja membayar, tetapi kesan negatif itu kerap berlanjut menjadi cerita yang menyebar melalui media sosial.

Fenomena parkir Rp10.000 mencerminkan rapuhnya konsistensi pelayanan publik di ruang paling dasar. Pembangunan fisik bernilai besar dapat kehilangan makna jika praktik kecil yang merugikan pengunjung dibiarkan. Dampaknya tidak berhenti pada satu lokasi, melainkan memengaruhi reputasi kota secara keseluruhan.

Langkah cepat Dinas Perhubungan Kota Madiun menindak oknum juru parkir patut diapresiasi. Namun, penanganan jangka panjang tidak cukup berhenti pada penertiban. Pembenahan sistem dan pembinaan berkelanjutan mutlak diperlukan agar persoalan serupa tidak berulang.

Juru parkir semestinya diposisikan sebagai bagian dari layanan pariwisata. Mereka bukan sekadar pemungut retribusi, tetapi juga wajah kota. Kepastian tarif, etika pelayanan, dan pemahaman dampak ekonomi jangka panjang perlu ditanamkan secara serius.

Membangun kota wisata berarti menjaga keselarasan antara tampilan dan perilaku. Keindahan ruang publik akan kehilangan makna jika pengalaman awal pengunjung diwarnai ketidakpastian. Pada akhirnya, citra Madiun sebagai kota ramah wisata diuji di tepi jalan, saat tarif parkir disebutkan dengan jujur dan transparan. (sas/selintasmedia)