Maaf-maafan Itu Formalitas, Adu Mekanik di Halaman Rumah Budhe Adalah Prioritas: Sebuah Studi Sosio-Kultural Halalbihalal yang Melampaui Realita
Selintas Media- Lebaran di desa bukan sekadar urusan maaf-maafan atau
ngabisin stok keripik pisang di ruang tamu. Lebaran adalah momen penting untuk
melakukan update status sosial secara visual. Dan alat ukur paling rame,
instan, dan "nyeter" di mata tetangga bukanlah slip gaji, melainkan
apa yang terparkir di halaman rumah saat Halal Bihalal.
Lupakan kasta Brahmana atau Ksatria. Di gang-gang saat Syawal, kasta
manusia ditentukan oleh merek, knalpot, dan tingkat kep mengkilapnya motor yang
dikendarai. Parkiran rumah sodara berubah menjadi catwalk otomotif yang
penuh penghakiman.
Sebagai pengamat sosial yang sering mengamati kalau cuma bawa Supra Fit boncengan bertiga, inilah
panduan membaca strata sosial dan tingkat kepercayaan diri pemudik berdasarkan
tunggangannya:
1.
Kasta
“Arogan Sore”: Honda Tiger Revo & RX King
Jika ada suara knalpot yang membelah
keheningan, membuat ayam tetangga kocar-kacir, dan getarannya terasa sampai ke
ulu hati, itu tanda kedatangan kasta tertinggi dalam urusan "Cari
Perhatian".
Pengendara Tiger Revo (Tirev) atau RX King
adalah sosok yang merasa sudah menaklukkan kerasnya jalanan. Mereka masuk ke
halaman rumah sodara dengan vibe "Raja Jalanan". Tingkat kepercayaan
diri mereka melesat 1000%. Pakaian boleh koko standar, tapi stut tanki dan
emblem "Laki" di motor adalah simbol gagah perkasa.
2.
Kasta
“Elegan”: Suzuki Satria FU & Yamaha Vixion
Biasanya dikendarai oleh sepupu yang
merantau dengan gaya rambut undercut warna pirang jagung. Motornya
seringkali sudah dimodifikasi: ban cacing (yang hati-hati kalau lewat jalan
rusak), knalpot brong, dan velg warna-warni.
Pengendara Satria FU atau Vixion adalah
definisi "Pamer Estetika Jalanan". Mereka ingin terlihat kencang,
muda, dan berbahaya. Saat parkir, mereka akan menstandar tengah motornya dengan
presisi, seolah-olah sedang ikut kontes modifikasi di Balai Desa. Kepercayaan
diri mereka muncul dari keyakinan bahwa mereka adalah yang paling stylish
di antara sepupu-sepupu lainnya. Walaupun, ya, kadang punggungnya agak pegal
karena posisi nunduk.
3.
Kasta
"Eksekutif Muda Wacana": Honda CB (Modern/Modif)
Ini adalah tipe pemudik yang ingin terlihat
classy, vintage, tapi tetap modern. Kalau CB-nya model baru (CB150R), dia
adalah tipe karyawan kantoran yang hidupnya lurus-lurus saja. Kalau CB-nya
modifikasi (CB Gelatik/Herex), dia adalah tipe pejuang rupiah yang menghargai
proses (dan mesin jahat).
Mereka pamer kemapanan yang tidak ndeso.
Parkirnya kalem, jaketnya agak bagusan (mungkin denim atau kulit sintetis), dan
bicaranya tertata. Mereka adalah idaman para mertua yang mencari menantu dengan
masa depan cerah, atau minimal punya motor yang joknya rata buat boncengin anak
gadis orang dengan sopan.
4.
Kasta
"Penguasa Gang": Honda Vario (125/150/160)
Vario adalah simbol "Kemapanan
Fungsional" di desa. Pengendaranya biasanya sudah berkeluarga, atau
minimal kerjaannya sudah tetap di kota kabupaten. Mereka tidak butuh pamer
kencang (walaupun Vario 160 ya kencang juga), tapi pamer kenyamanan dan
teknologi.
"Lihat, motorku keyless, nggak pakai
kunci," adalah flexing terselubung saat mereka mematikan mesin. Tingkat
pede mereka stabil. Mereka merasa paling rasional: motor irit, bagasi gede
(muat biskuit Khong Guan dua kaleng), dan kalau dipakai Halal Bihalal keliling
kampung nggak bikin capek tancap gas-rem.
5.
Kasta
"Ukhti-Ukhti Senja": Honda Scoopy
Ini adalah motor wajib para sepupu
perempuan yang kerja di drakor... eh, maksudnya kerja di kota dan punya selera
estetika aesthetic. Scoopy adalah simbol keimutan dan keluwesan.
Saat parkir, mereka pamer helm Bogo yang
warnanya senada dengan motor dan tote bag kanvasnya. Kepercayaan diri mereka
muncul dari perasaan bahwa mereka adalah yang paling "gemoy" dan
kekinian di parkiran. Pamer mereka halus, sehalus tarikan gas motor matic retro
ini.
6.
Kasta
“Paling Kuat”: Hond Beat
Honda Beat. Motor ini ada di setiap sudut
parkiran, jumlahnya melebihi jumlah toples rengginang di meja tamu.
Pengendara Beat adalah kaum realis. Mereka
tidak pamer apa-apa, kecuali fakta bahwa mereka sampai ke tujuan dengan
selamat. Kepercayaan diri mereka muncul dari prinsip "Sing Penting
Teko" (Yang Penting Sampai). Mereka adalah tulang punggung keluarga yang ogah
pusing soal gengsi, yang penting motornya irit dan cicilannya lancar (atau
sudah lunas, alhamdulillah). Saat parkir, mereka paling santai, karena Beat
mereka nggak bakal ketuker sama Beat punya sepupu yang lain... oh wait, mungkin
ketuker sih kalau warnanya sama.
(Sas/SelintasMedia)

Join the conversation