JS Khairen dan Cara Warga Madiun Menikmati Literasi Tanpa Perlu Spaneng
Kajian Literasi Bersama Penulis JS Khairen di Tiram Coffe Madiun- (Dok.Sas/SelintasMedia)
Selintas Media- Madiun itu kota yang paling tahu cara menikmati hidup.
Di sini, nongkrong nggak cuma soal ngabisin kopi atau pamer motor, tapi juga
soal bertukar isi kepala. Buktinya, pas JS Khairen mampir ke Tiram Coffee lewat roadshow "Pulang
ke Rumah", Selasa (24/3), kemarin, suasananya tetap asyik, santai, dan
jauh dari kesan seminar yang bikin ngantuk.
Bagi Dinar, salah satu
warga yang ikut nimbrung, acara semacam ini adalah bukti kalau literasi itu
sudah jadi gaya hidup anak muda Madiun. Nggak perlu pakai kerutan di dahi,
literasi bisa masuk lewat obrolan-obrolan renyah.
"Bagi saya, melek literasi itu kayak kita milih tempat makan yang enak. Kita harus tahu mana yang beneran berkualitas, mana yang cuma menang di promosi," ujar Dinar sambil menikmati suasana kafe.
Menurutnya, di zaman yang serba digital ini, "membaca" bukan
lagi soal duduk diam di perpustakaan yang sunyi. Membaca jejak digital yang
berbobot atau memahami tren yang sedang lewat di linimasa juga bagian dari
kecerdasan literasi. Intinya, literasi itu bikin kita jadi orang yang punya
pendirian, nggak gampang ikut-ikutan kalau ada sesuatu yang lagi viral.
JS. Khairen Tengah Memberikan Sebuah Arahan Kepada Para Pengunjung- (Dok. Madiun Book Party)
Kenapa sosok JS Khairen begitu disambut di sini? Karena tulisannya, seperti
Kami (Bukan) Sarjana Kertas, itu suaranya "kita banget". Beliau nggak bicara dari atas menara
gading, tapi bicara dari hati yang sama-sama pernah berjuang.
Dari obrolan di acara kemarin, ada beberapa hal yang bikin kita makin
"melek":
- Paham Konteks: Membaca bikin kita tahu alasan di balik sebuah peristiwa, bukan
cuma tahu ujungnya doang.
- Wawasan Luas: Jejak digital itu luas banget. Kalau kita pintar memilah,
internet itu gudang ilmu, bukan cuma tempat buat debat kusir.
- Identitas Diri: Dengan banyak membaca, kita jadi tahu siapa diri kita dan nggak
mudah terombang-ambing narasi orang lain.
Madiun sudah punya pondasi yang kuat soal kebersamaan. Kehadiran
penulis seperti JS Khairen itu ibarat dapet kiriman buku bagus pas lagi
asyik-asyiknya ngopi: bikin obrolan makin berisi.
Dinar dan banyak anak muda lainnya di Madiun sadar betul kalau literasi
adalah cara paling elegan buat mencintai diri sendiri. Dengan tahu banyak hal,
kita jadi nggak mudah dibohongi dan punya pandangan yang lebih jernih melihat
dunia.
Jadi, literasi di Madiun itu nggak horor, kok. Malah menyenangkan,
asalkan kita tahu apa yang harus dibaca dan gimana cara menikmatinya. Sudahkah
kamu "membaca" hal menarik hari ini sambil ditemani segelas kopi?
(Sas/SelintasMedia)


.jpeg)
Join the conversation